Menurutnya, pendekatan yang lebih manusiawi dan realistis adalah dengan menyalurkan logistik langsung ke setiap keluarga dalam jumlah yang cukup untuk dua minggu hingga satu bulan ke depan. Skema ini dinilai lebih efisien, sekaligus mampu memberikan rasa aman yang nyata bagi masyarakat terdampak, serta mengurangi ketergantungan pada antrean bantuan harian dari pemerintah maupun organisasi masyarakat sipil (CSO).
“Jika logistik tersedia untuk dua minggu sampai satu bulan, masyarakat tidak lagi hidup dalam kecemasan. Rasa aman itu nyata, dan dari situlah proses pemulihan sosial dan ekonomi bisa mulai berjalan,” kata Tgk. Muharuddin.
Ia menegaskan bahwa penanganan bencana tidak boleh semata-mata berbasis status dan administrasi, melainkan harus berorientasi pada kebutuhan riil dan martabat hidup masyarakat korban bencana.
“Yang terpenting adalah memastikan masyarakat bisa bertahan hidup secara layak sampai kondisi benar-benar pulih,” demikian Tgk. Muhar.(Sayed Panton)





