MASALAH ini sejatinya menyingkap krisis yang lebih besar: lemahnya tata kelola CSR di sektor industri ekstraktif.
CSR [atau tanggung jawab sosial perusahaan] seharusnya menjadi jembatan antara keuntungan dan kesejahteraan.
Namun di tangan manajemen yang tertutup, program itu berubah menjadi kosmetik: tampak indah dalam laporan tahunan, tapi tak punya dampak nyata bagi masyarakat.
Bagi banyak warga lingkar tambang, CSR PT. Medco E&P Malaka hanya sebatas papan nama proyek dan seremoni. Tidak ada pelibatan warga dalam perencanaan, tidak ada transparansi dana, dan tidak ada keberlanjutan program.
“Kalau CSR hanya jadi formalitas, itu bukan tanggung jawab sosial, tapi pencitraan,” kata Dr. Usman Lamreung.
Di Antara Minyak dan Martabat.
KONFLIK ini bukan semata tentang uang tali asih atau CSR yang tak tepat sasaran. Ini soal martabat.
Soal pengakuan bahwa warga di lingkar tambang punya hak untuk hidup layak di tanah mereka sendiri.
Tambang boleh membawa minyak, tapi seharusnya juga membawa rasa adil. Karena keadilan sosial bukanlah bonus, melainkan fondasi keberlanjutan industri itu sendiri.
Di Aceh Timur, di antara sumur-sumur minyak yang berdenyut di perut bumi, kini bergema suara yang sederhana namun kuat:
“Kami tidak menolak tambang. Kami hanya ingin hidup layak di tanah kami sendiri.” [].




