YANG menarik dari aksi ini adalah wajah-wajah yang memimpin.
Perempuan. Di provinsi yang dikenal religius dan patriarkal seperti Aceh, kehadiran perempuan di jalan membawa pesan moral yang kuat.
Mereka tidak sedang menantang sistem, tetapi menegakkan martabat keluarga mereka yang lama diabaikan.
Bagi mereka, tambang bukan sekadar sumber minyak [tapi juga sumber hidup]. Ketika keadilan sosial tak lagi mengalir, maka yang turun ke jalan bukan hanya kaum muda, tapi juga para ibu yang hatinya tersayat melihat anak-anak mereka tetap hidup di bawah garis miskin, meski di atas tanah yang menghasilkan miliaran rupiah tiap bulan.
Ancaman Eskalasi dan Kemandekan Dialog.
KORLAP aksi memperingatkan; jika tuntutan warga tidak dipenuhi, mereka akan menutup akses operasional perusahaan. Pernyataan itu bukan gertak sambal.
Di Lapangan, ketegangan sudah meningkat. Aparat mulai berjaga, perusahaan mengencangkan komunikasi krisis, sementara pemerintah daerah masih mencari posisi aman.
Dr. Usman Lamreung menyebut ini sebagai “tanda bahaya sosial.”
Menurutnya, jika tak segera ada dialog terbuka antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat, konflik ini bisa menjadi titik balik yang buruk bagi iklim investasi di Aceh Timur.
“BPMA (Badan Pengelola Migas Aceh) tidak bisa hanya menonton,” tegasnya. “Mereka punya mandat moral dan hukum untuk memastikan aktivitas migas berjalan dengan prinsip keadilan sosial.”
CSR yang Kehilangan Jiwa.




