Jenderal Elang Dari Binjai

Jenderal
Jenderal Elang Dari Binjai.

Elang yang Menyapa Rakyat.

BEBERAPA hari setelah pelantikan, Daniel pulang ke Binjai. Di lapangan kecil dekat Sungai Bingai, ratusan warga menunggu dengan spanduk bertuliskan “Selamat Datang Jenderal Rakyat.”

Daniel tertawa kecil. “Jangan panggil saya Jenderal lagi,” ujarnya. “Saya sekarang hanya kader, sama seperti kalian.”

BACA JUGA...  Pj Bupati Mahyuzar Kalungkan Medali untuk Atlet Aceh Peraih Emas, Cabor Ini

Namun bagi rakyat Binjai, Daniel tetap elang [bukan karena pangkatnya, tapi karena integritas dan kesederhanaannya].

Ia duduk di atas kursi plastik biru, mendengarkan keluhan nelayan, mencatat aspirasi pemuda, dan berbicara tentang koperasi pesisir.

Gestur kecil itu memperlihatkan politik yang menjejak bumi.

Kita akan membangun politik yang membumi, tapi bermata elang; melihat jauh ke depan untuk kepentingan bangsa.”

BACA JUGA...  Closing Ceremony PON XXI di Stadion Harapan Bangsa Berlangsung Aman dan Meriah

[Achmad Daniel Chardin].

Sayap yang Kembali Terbuka.

DALAM pandangan Daniel, simbol elang bukan sekadar estetika, tapi falsafah perjuangan.

Elang tidak pernah terbang rendah,” katanya. “Ia selalu menatap jauh, menjaga dari ketinggian.”

Lambang baru itu menggambarkan arah baru Partai Berkarya [meninggalkan konflik masa lalu], menatap politik masa depan dengan kepala tegak.

BACA JUGA...  Pemuda Dewan Dakwah Aceh Laksanakan Seminar Wirausaha

Daniel ingin membangun partai yang bukan hanya kuat di struktur, tapi juga lembut di hati rakyat.