Dari medan itu, ia mengenal kompleksitas Aceh dan Sumatera Utara; dua wilayah dengan denyut sosial, ekonomi, dan politik yang saling berkelindan.
Kini, setelah menggantungkan seragam lorengnya, Daniel kembali ke tanah asal dengan cara berbeda; bukan memimpin pasukan, tapi mengarahkan rakyatnya untuk bangkit.
Politik dengan Disiplin dan Nurani, “Politik dan militer sama-sama bicara soal kepemimpinan,” ujarnya suatu sore di Medan. “Bedanya, di politik, senjatanya adalah kepercayaan rakyat.”
Daniel membawa nafas baru ke tubuh Partai Berkarya Sumut. Ia menolak gaya politik transaksional, lebih memilih “politik kerja” [yang hadir di tengah rakyat, bukan hanya saat kampanye].
Bersama duet nasional Muchdi Pr dan Prof. Irmanjaya Thaher, ia menata ulang struktur partai dari bawah: 33 DPW dan 416 DPD kini disiapkan untuk masa bakti 2025–2030.
“Kami sedang membangun partai yang solid, kuat, berdisiplin, dan fokus pada tujuan besar; dicintai rakyat, bukan sekadar dikenal.”
Membangun Harmoni Aceh–Sumut.
SALAH satu gagasan besar Daniel adalah Inisiatif Harmoni Aceh–Sumut, sebuah upaya memperkuat integrasi ekonomi dan sosial di dua provinsi yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.
Ia menyadari, pesisir timur Sumatera punya potensi besar, tapi terhambat oleh ketimpangan pembangunan.




