Jenderal Elang Dari Binjai

Jenderal
Jenderal Elang Dari Binjai.

“Wilayah barat Indonesia ini harus menjadi satu denyut ekonomi,” tegasnya. Ia membayangkan jaringan koperasi rakyat pesisir, Sekolah Rakyat Industri dan Siber, serta penguatan UMKM dan nelayan.

Baginya, politik bukan alat perebutan kekuasaan, tapi wadah untuk memberikan solusi nyata.

Partai politik harus hadir bukan hanya di musim pemilu, tapi di saat rakyat kesulitan.”

BACA JUGA...  Bersama BNNK, Polres Simalungun, Satgas Beri Penyuluhan Bahaya Narkoba, dalam Program TMMD

Ancaman Global, Jawaban Lokal.

DI TENGAH pidato politiknya, Daniel sering berbicara dengan istilah strategis: krisis energi, volatilitas rantai pasok, kejahatan siber, dan keamanan maritim Selat Malaka.

Ia membacanya dengan pola pikir seorang prajurit: sistemik dan realistis.

“Bangsa ini tidak boleh hanya menjadi penonton. Kalau dunia sedang berebut sumber energi, kita harus pastikan rakyat kita tidak kekurangan listrik atau pangan,” ujarnya.

Kata-katanya sederhana, tapi menggambarkan fondasi ideologinya: politik kemandirian nasional. Ia ingin menjadikan partai sebagai garda rakyat, bukan sekadar corong kekuasaan.

BACA JUGA...  Dandim 0207/Sml : Tuntaskan Sasaran Fisik,Ingat Ibadah Jangan Ditinggalkan, Itu Kewajiban

Luka Lama, Semangat Baru. Partai Berkarya bukan tanpa luka.

DUALISME kepemimpinan dan konflik hukum membuat partai ini gagal lolos Pemilu 2024.

Namun bagi Daniel, kegagalan bukan akhir. Ia menyebut masa itu sebagai “periode introspeksi.”

Saya tahu bagaimana rasanya kehilangan pasukan di tengah pertempuran,” katanya lirih. “Tapi prajurit sejati tidak berhenti hanya karena kalah satu perang.”

BACA JUGA...  Tgk. Jamaica Sambut Kapolda Aceh Baru, Salam Komando Simbol Penghormatan

Kini, di tangan kepemimpinan baru, Partai Berkarya membuka lembaran bersih. Daniel membawa semangat konsolidasi, Muchdi Pr membawa militansi, dan Irmanjaya Thaher membawa modernisasi. Trio ini menjadi simbol arah baru: politik yang terdidik, berdisiplin, dan melayani.