Irwan Effendi : Kunci Keberhasilan Disiplin

Minggu, 15 Desember 2019

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh Tamiang (MA) – Irwan Effendi, putra kelahiran Pangkalan Berandan, 16 Juni 1970, tepatnya 49 tahun silam sudah mengalami pahit getirnya kehidupan dunia.

Suami Wahyuni Ningsih ini melenggang kekursi parlemen DPRK Aceh Tamiang, Aceh pada Pileg 2018 lalu dengan perolehan suara 1.058 Daerah Pemilihan (Dapil) Satu dari Partai Nanggroe Aceh (PNA).

Sosoknya, ramah, supel, smart dan tak pernah membatasi dalam bersahabat. Kata dia, kunci sebuah kesuksesan dimulai dengan ‘Disiplin’. Kedisiplinan membuat seseorang bisa membatasi diri secara universal.

Pilosofi itu menjadi pegangan dalam dia menjalankan aktifitasnya sehari hari. “Semua harus dimulai dengan disiplin, ikhlas dan usaha sungguh sungguh. Karena keberhasilan dicapai bermula dari yang saya sebutkan,” tegasnya.

Ayah dari, Athaya Mayori Marunduri, Nathan Nayaka Marunduri dan Kezya Adiba Marunduri, mencekokin dirinya atas keyakinan dan disiplin.

Dia banyak belajar tentang arti hidup dan kehidupan, kala menjejakkan kakinya sebagai mahasiswa, Politeknik Negeri Lhokseumawe, Aceh. proses hidup dimulai dari sana.

Sukses menamatankan kuliah, Wan Ali (sapaan akran Irwan Effendi) memulai debutnya berwiraswasta. “You can if you think, if you can,” katanya, sebagai motto menjadi seorang yang bermakna.

‘Anda bisa berpikir, kalau anda bisa’ sepenggal kiasan dari motto pria ganteng ini menambah keyakinan untuk pernah berpikir kalau seseorang itu tak mampu. Pasti mampu dan bisa, selama mau berusaha sungguh sungguh.

Banyak penggalan kisah pengalaman, Wan Ali; bisa dipetik menuju keberhasilan. Dapat dia buktikan, sukses sebagai wiswasta, sukses dalam kancah karir politik.

Saat ditemui wartawan mediaaceh.co.id; Syawaluddin, diruang komisi II DPRK Aceh Tamiang, senyum dan sapaan ramahnya membawa kesan pamiliar. Berikut petikan wawancaranya dengan penulis.
***
Kuliah Itu Mandiri.
Irwan Effendi, anak dari pasangan almarhum Alinuddin dan Nurhayi Duha mengakui jika proses pendewasaan berpikir dan berusaha dumulai saat dirinya tercatat sebagai mahasiswa.

Betapa tidak, semua harus dikerjakan dan dipikir sendiri. Dia terdegradasi dari kehidupan glammour. Hari harinya penuh keseriusan mengejar target menyelesaikan studynya.

Kuliah adalah masa dimana seseorang menjadi individual sejati, betapa tidak, semua dilakukan sendiri. Tanpa orang tua. “Ini titik klimaks, dari masa remaja menjadi pemikir yang jauh lebih dewasa,”.

BACA JUGA...  Penelantaran Anak Harus Dibuktikan Secara Psychologis

Masa inilah menjadikan seorang Wan Ali lebih perfection, dia mengatakan; dari belajar, makan, bergaul sampai ke hal hal yang bersifat prinsipil semua diatur sendiri tanpa pengawasan orang tua.

Katanya, inilah aku yang sebenarnya, meski terkadang egosentries menggelayut dicekokin hal hal negatif. Tapi semua itu dapat dipatahkan dengan keikhlasan hati dalam kemandirian.

Masa masa sebagai seorang mahasiswa dilalui Wan Ali dengan penuh tanggung jawab, dia tau, bagaimana susahnya orang tua membiayai kuliahnya.

Hal itu diamininya, sejalan keseriusan menyelesaikan Kartu Rencana Studi (KRS) tanpa kredit, di fakultasnya.

Wan Ali sangat berkarakter, terlihat saat mengambil sikap, dia cukup bijaksana menentukan pilihannya, tak terkecuali dirumah.

Menurut dia, hidup harus memiliki prime yang terukur agar tidak salah dalam menempatkan dan meletakkan pada posisinya.

Hanya tiga tahun, Wan Ali menyelesaikan studinya diperguruan tinggi Politeknik Negeri Lhokseumawe. Cukup dibuktikan kalau dia serius menjalankan tugasnya dengan baik.

“Inilah cara kita membanggakan orang tua, tanggung jawab dan disiplin menyelesaikan kuliah, harus kita ketahui bagaimana susahnya orang membiayai anaknya menuntut ilmu,” katanya.

Wan Ali sangat memahami, sebab dia digembleng dari keluarga yang sangat memiliki disiplin tinggi, meski jauh dari orang tua, dia sudah terbiasa dengan kedisiplinan saat dia bersama orang tuanya.

Meski terkadang sebagai seorang remaja mudah disusupi pemikiran negatif, tapi Wan Ali mampu menampiknya. Dia tau hal itu akan menjerumuskannya dilingkaran hitam pergaulan.

Ada pesan orang tua yang terus mengingatkan seorang Wan Ali hingga saat ini, “Jangan sampai kau gagal dan masa depanmu tergantung dari dirimu sendiri walau Allah yang menakdirkannya, meski dibarengi ikhtiar dan kerja keras,” jelasnya menirukan wejangan dari Ayahnya.

Wan Ali, gambaran sukses dari ribuan orang orang sukses yang ada di Aceh. Sosoknya menguatkan karakternya memulai bisnis saat setelah menyelesaikan kuliahnya.

Disiplin itu sangat penting, dengan tidak disiplin menurutnya bisa kehilangan sesuatu yang dicita citakan menjadi beku dan sirna tanpa bekas dari nalar kita.
***

Kerja Keras dan Disiplin.
Awalnya Wan Ali sangat berkeinginan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), apalagi dia seorang jebolan Fakultas Teknik Kimia.

Rasa ingin menjadi seorang PNS idaman standar bagi mereka yang telah mengantongi ijazah sarjana, lamaran diajukan Wan Ali, keberbagai perusahaan, bagi di Aceh hingga ke Pekan Baru.

BACA JUGA...  Gubernur Irwandi Minta KEK Arun Segera Beroperasi 

Dewi Ajour belum berpihak padanya. Apakah dia putus asa?, jawabnya tidak. Wan Ali tak pernah merasa putus asa, dia mencoba lewat jalan lain, bisa berbuat bagi dirinya dan orang orang yang ada disekelilingnya.

“Saya berpikir, kalau berharap terus ingin menjadi PNS sepertinya tak mungkin, saya coba bergeser kearah wiraswasta, sebab peluangkan tidak hanya ada pada satu patokan,” katanya yakin.

Kepiwaian dia dan atas ajakan teman teman Wan Ali bergabung sebagai pengumpul karet masyarakat. Pada awalnya ada kecanggungan, sebab dia merasa sebagai sarjana kenapa harus bekerja menimbang getah (Karet).

Usaha itu dilakoni hampir dua tahun, lalu dia berpikir kembali, “Kalau dibiarkan seperti ini, mau jadi apa saya,” gumamnya dalam hati.

Lalu Wan Ali bekerja, sebagai Guru Pengajar Bahasa Inggris di Hybride selama dua tahun dijalaninya. Lelaki Nias memang tak pernah mau menyerah, aktifitasnya belum dianggap mapan.

Dia berpikir, jika terus menjadi pengajar bagaimana bisa melanjutkan kehidupan dan berkeluarga nantinya, ini menjadi beban yang sangat berat bagi dia.

Atas ajakan teman temannya membuka peluang untuk berwiraswasta, Wan Ali merasa enjoy dibisnis barunya ini.

Meski tidak bersinggungan dengan disiplin ilmu dikuliahannya, namun manajemennya bisa diaplikasikan dalam berwiraswasta.

Wan Ali sangat menikmati bisnis berwiraswasta dibidang kelapa sawit, apalagi usaha barunya ini maju dan berkembang sangat baik hungga kini.

Karier Politik.
Dari karier bisnis, Wan Ali meloncat ke kancah politik tepatnya ditahun 2004. Namun dia sempat berpikir untuk apa terjun ke politik, berwiraswasta jauh lebih baik.

Tapi ternyata, gawean politik memang sudah menjadi wejangan dari orang tuanya di Partai Bintang Reformasi (PBR).

Saat itu Wan Ali memang belum terjun ke politik praktis, tetapi dia membantu financial untuk untuk partai yang di lokomotipi Ayahnya.

Hari demi hari, bulan bahkan tahunan Wan Ali mensupport PBR. Suatu ketika ayahnya menyerahkan partai tersebut pada Wan Ali.

Awalnya Wan Ali menanggapi sepele jabatan ketua partai ketika didaulat oleh Ayahnya. Namun lama kelamaan dia larut dan asyik.

BACA JUGA...  Mahasiswa Pertanian Unsyiah Sampaikan Inovasi Pengendalian Hama Wereng Coklat Kepada Petani

Banyak hal bisa didapat dan dipetik dari politik, diplomasi, silaturrahmi dan strategi tentang hal yang dikehendaki dengan cara cara yang santun.

Praktis cintanya kepada partai diawal tahun 2005, Wan Ali membangun gerbong politik hingga 2009. Dia didapuk Pergantian Antar Waktu (PAW) 2008 – 2009.

Lalu Wan Ali ikut bertarung pada pileg 2009 – 2014, saat itu gagal. Tetapi dia tak pernah putus asa, sebab cintanya dengan dunia politik sudah menyebar keseluruh pikirannya.

Ada wejangan yang sangat bermakna terucap dari bibirnya, begini kata Wan Ali; ‘Rebutlah kekuasaan untuk membantu yang lemah’ artinya ketika kita ada diposisi puncak, bukan semata mata buat personality tetapi ada hak hak rakyat yang harus dilindungi.

Kegagalan lalu Wan Ali merupakan cambuk untuk melakukan dan mengatur manajemen lebih baik lagi. Dia mencoba menclok ke Partai Nanggroe Aceh (PNA) sebagai sampan untuk bertarung pada pileg 2018 yang baru saja berlalu di Dapil satu.

Hasilnya, sungguh diluar dugaan, meski dengan segala keterbatasan Wan Ali mampu nangkring kesinggahsana kursi DPRK Aceh Tamiang, periode 2019 – 2024.

Karier poltiknya sukses membawa sebanyak 1058 suara perwakilan rakyat Aceh Tamiang. Pesannya, jangan pernah masyarakat berpikir saat mereka duduk didewan tidak merespon pendapat dan usulan.

Tepatnya adalah, lima tahun bekerja didewan kebijakan yang dilakukan adalah step by step, untuk memenuhi hasrat dan pokir yang diajukan.

“Yang saya maksud step by step adalah, saya akan selesaikan tahun pertama untuk wilayah A, tahun kedua kewilayah B. Dan seterusnya begitu, hingga akhir masa tugas maka semua program yang dilaksanakan dapat berjalan dengan baik,” katanya.

Selanjutnya jangan pernah memandang kerja seorang dewan adalah sesuatu yang mudah dan indah. Sehingga rakyat harus bisa memahami bagaimana rumitnya keadaan didalam.

Jangan pernah melihat ketika seseorang menjadi dewan, semuanya akan gampang dan menjadi mudah. Sebab semua ada regulasinya, protapnya dan tatibnya.

“Mulailah dari yang sulit, sebab akan menjadi ringan jika dilakukan dengan seksama serta keikhlasan sesungguhnya. Dan masyarakat adalah bunganya, yang butuh air dan rawatan,” katanya mengakhiri. (Syawaluddin)

Berita Terkait

PESAWAT: Informasi Harus Terverifikasi
Tiga Figur Dinilai Layak Pimpin DPRA, Ini Kata Abu Salam
Pemulihan Lamban, Korban Banjir dan Longsor Aceh Sorot Kinerja Satgas Bencana
Masyarakat Sabang Menyesalkan Pejabat BPKS Yang Telah Dikeluarkan Kini Masuk Lagi
Abu Salam Kunjungi SPS Aceh, Bahas Sinergi Pers dan Investasi
Mualem Ganti Ketua Beserta Pengurus KPA Wilayah Sabang dan Pulo Aceh
Ketua Satgassus Bireuen Sidak Pupuk Subsidi
Wahyudi Ramadhan Ditunjuk Sebagai Pimpinan Pengcab Aceh Internasional Orientering Kota Sabang

Berita Terkait

Selasa, 28 April 2026 - 13:30 WIB

PESAWAT: Informasi Harus Terverifikasi

Selasa, 14 April 2026 - 01:01 WIB

Tiga Figur Dinilai Layak Pimpin DPRA, Ini Kata Abu Salam

Minggu, 8 Maret 2026 - 12:34 WIB

Pemulihan Lamban, Korban Banjir dan Longsor Aceh Sorot Kinerja Satgas Bencana

Jumat, 10 Oktober 2025 - 16:09 WIB

Masyarakat Sabang Menyesalkan Pejabat BPKS Yang Telah Dikeluarkan Kini Masuk Lagi

Jumat, 10 Oktober 2025 - 02:06 WIB

Abu Salam Kunjungi SPS Aceh, Bahas Sinergi Pers dan Investasi

Berita Terbaru

Jubir Pemkab Aceh Utara Muntasir Ramli.

PEMERINTAHAN

Jubir: DTH 10 KK Gampong Lubok Pusaka Sudah Cair

Kamis, 29 Okt 2026 - 23:10 WIB

Bersama inventor dan jajaran redaksi perusahaan, Bupati Aceh Utara Ayah Wa bahas huntap, Kamis, (29/10).

PEMERINTAHAN

Ayah Wa Bahas Huntap Bersama Inventor

Kamis, 29 Okt 2026 - 19:17 WIB