Dalam wawancaranya, Adrianus R Pusungunaung mengaku langsung tergerak ketika melihat unggahan di Facebook yang dibuat oleh Ruslan Manopo.
Ia memahami betapa pentingnya spesies ini karena telah banyak membaca buku dan berdiskusi dengan para ahli saat ikan coelacanth ditemukan di perairan Sulawesi Utara. “Begitu melihat postingan itu, saya langsung menghubungi Prof. Alex dan tim Unsrat.
Kami segera bergerak malam itu juga ke Gorontalo untuk menyelamatkan ikan ini,” ujar Adrianus.
Tindakan cepat ini terbukti krusial dalam memastikan ikan tetap dalam kondisi yang layak untuk diteliti lebih lanjut.
Coelacanth: Ikan Purba yang Selamat dari Zaman Dinosaurus
Coelacanth telah bertahan dari berbagai kepunahan massal yang memusnahkan sebagian besar kehidupan di Bumi, termasuk kepunahan yang menghabisi dinosaurus. Spesies ini pertama kali dideskripsikan oleh Louis Agassiz pada 1836 berdasarkan fosil berusia 260 juta tahun.
Pada 22 Desember 1938, seorang kurator museum di Afrika Selatan, Marjorie Courtenay-Latimer, menemukan spesimen coelacanth pertama yang masih hidup. Ikan tersebut diidentifikasi oleh J.L.B. Smith, seorang ahli ichthyologist, yang kemudian menamai spesies itu Latimeria chalumnae.
Setelah itu, penemuan kedua terjadi pada tahun 1952 di Kepulauan Komoro, Afrika, dan sejak saat itu beberapa spesimen lainnya ditemukan di perairan Madagaskar, Mozambik, dan Kenya.




