Terpilihnya kembali secara aklamasi menegaskan posisinya sebagai figur kompromi di tengah turbulensi politik internal partai.
Namun, sejarah juga mencatat bahwa setiap muktamar PPP kerap dibayangi intrik dan dualisme.
Dari era Ismail Hasan Metareum, Hamzah Haz, hingga Suryadharma Ali, konflik elite selalu menghantui.
Kini, bola ada di tangan Mardiono untuk membuktikan bahwa aklamasi bukan sekadar jalan pintas, melainkan momentum konsolidasi.
“PPP tidak boleh terus terjebak dalam konflik internal. Kita butuh kepemimpinan yang merangkul, bukan yang memecah. Pak Mardiono punya kesempatan itu,” pungkas Hilman.(R)




