Secara simultan, beliau juga mendorong jajarannya untuk merangkul dan membangkitkan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal di sekitar wilayah kerja korps Bhayangkara.
Langkah taktis ini terbukti efektif dalam mempererat tali silaturahmi sekaligus menggerakkan roda perekonomian masyarakat bawah yang menjadi basis kekuatan pertahanan wilayah.
Keberhasilan komprehensif dalam mengubah wajah institusi ini diperkuat dengan komitmen beliau dalam membangun komunikasi kultural yang kuat.
Irjen Pol. Marzuki menempatkan para tokoh agama atau ulama serta tokoh adat sebagai garda terdepan dalam menjaga Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas), sehingga potensi konflik dapat diredam dengan pendekatan yang sejuk.
Di luar keberhasilan reformasi kultural tersebut, Irjen Pol. Marzuki juga dikenal dengan inisiasi program Green Policing atau Kepolisian Hijau.
Di bawah komando beliau, Polda Aceh menaruh perhatian yang sangat serius terhadap isu-isu lingkungan hidup, khususnya dalam penanganan kerusakan hutan dan pembalakan liar yang mengancam kelestarian alam kedamaian Aceh.
Keberhasilan program Green Policing ini tidak lepas dari kecerdasan beliau dalam menerapkan strategi kolaborasi Pentahelix. Irjen Pol. Marzuki berhasil merangkul lima elemen utama sekaligus, yakni pemerintah, akademisi, komunitas, pelaku usaha, hingga media massa untuk bergerak bersama menjaga ekosistem alam dan memberikan edukasi lingkungan kepada generasi muda.




