Doa, Air Mata, dan Ingatan: Haul Tragedi Simpang Kuala–Ara Kundoe Digelar Khidmat

Sabtu, 14 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

ACEH TIMUR (MA) — Langit Sabtu siang di Lapangan Simpang Kuala, Idi Cut, terasa teduh. Di bawah tenda sederhana, doa-doa dilantunkan pelan, menyatu dengan isak yang ditahan. Kenduri digelar, ayat suci dibaca, dan nama-nama korban kembali disebut. Ingatan lama yang tak pernah benar-benar hilang itu dipanggil pulang dengan penuh hormat.

BACA JUGA...  Pemberian BPUM Sesuai Perpes dan Harus di Vaksin COVID-19

KKR Aceh bersama Pemerintah Kabupaten Aceh Timur dan komunitas korban menggelar haul Tragedi Simpang Kuala–Ara Kundoe, 14 Februari 2026. Bukan sekadar seremoni, peringatan ini menjadi ruang batin tempat duka lama dirawat, sekaligus harapan baru disemai.

Para keluarga korban datang dengan langkah tenang. Sebagian membawa anak dan cucu — generasi yang hanya mengenal peristiwa itu dari cerita yang dituturkan berulang-ulang di rumah. Di wajah mereka, sejarah terasa dekat, bukan catatan di buku, melainkan luka yang hidup.

BACA JUGA...  Eks Komandan Pasukan Elit GAM Wakaf Tanah, Bang Wandi Hadir

Sejumlah pejabat dan tokoh hadir, di antaranya perwakilan Wali Nanggroe Aceh, unsur Komnas HAM daerah, Badan Reintegrasi Aceh, tokoh adat, ulama, serta unsur Forkopimda. Perwakilan kementerian HAM RI juga hadir melalui Dirjen Pelayanan dan Kepatuhan HAM, Munafrizal Manan.

Ketua KKR Aceh, Masthur Yahya, menyebut tragedi yang terjadi pada 3 Februari 1999 itu sebagai salah satu simpul duka paling dalam dalam lintasan konflik Aceh. Warga sipil menjadi korban, keluarga kehilangan orang tercinta, dan banyak yang mewarisi trauma panjang.

BACA JUGA...  Pemkab Aceh Utara Fasilitasi Etnis Rohingya, Begini Dikatakan Kabag

Berita Terkait

KPEA Soroti Pergeseran Tradisi Pernikahan Aceh
23 Warisan Budaya Aceh di Tingkat Nasional, Kekayaan yang Tak Boleh Hilang
Seudati: Seni Gerak, Syair, dan Kekompakan yang Tak Lekang Zaman
Seni di Balik Kupiah Meukeutop, dari Busana Adat hingga Simbol Aceh
Pinto Aceh: Sebuah Motif, Sebuah Karya, Sebuah Identitas
Rencong: Ketika Sebilah Senjata Menjadi Karya Seni dan Identitas Aceh
Si Dalupa, Teater Bertopeng Aceh Barat yang Tetap Hidup di Tengah Zaman
Menjaga Gegedem Tetap Bertalu, Merawat Ingatan Budaya Tanah Gayo

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 23:00 WIB

KPEA Soroti Pergeseran Tradisi Pernikahan Aceh

Minggu, 30 Agustus 2026 - 22:17 WIB

23 Warisan Budaya Aceh di Tingkat Nasional, Kekayaan yang Tak Boleh Hilang

Minggu, 30 Agustus 2026 - 16:06 WIB

Seudati: Seni Gerak, Syair, dan Kekompakan yang Tak Lekang Zaman

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 23:01 WIB

Seni di Balik Kupiah Meukeutop, dari Busana Adat hingga Simbol Aceh

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 14:57 WIB

Pinto Aceh: Sebuah Motif, Sebuah Karya, Sebuah Identitas

Berita Terbaru

Ilustrasi cover editorial bantuan stimulan

EDITORIAL

60.223 KK, Amanah yang Harus Sampai ke Rumah

Sabtu, 5 Sep 2026 - 13:44 WIB

Tim advokat LBH Peradi Profesional bersama warga mengawal proses hukum dugaan pencemaran lingkungan yang melibatkan PT Genesis Regeneration Smelting (GRS) di Serang, Banten. (Foto: JR/MA)

HUKOM

Berkas Perkara PT GRS Dilimpahkan ke PN Serang

Sabtu, 5 Sep 2026 - 13:44 WIB