Komunikasi yang Nyaris Terputus
SALAH satu kendala utama dalam penanganan bencana di Aceh Tamiang adalah lumpuhnya komunikasi. Jaringan seluler tidak berfungsi di banyak titik. Listrik padam total.
Dalam kondisi seperti ini, koordinasi lintas wilayah menjadi sangat terbatas.
Namun Pemerintah Kabupaten menemukan solusi alternatif: memanfaatkan jaringan radio komunikasi milik Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI).
Melalui perangkat radio, Armia dan timnya mengirimkan laporan situasi secara berkala ke Banda Aceh sebagai ibu kota provinsi, dan diteruskan ke pemerintah pusat di Jakarta.
Informasi yang disampaikan meliputi jumlah desa terdampak, estimasi jumlah pengungsi, kebutuhan logistik, dan kondisi infrastruktur.
Menurut salah satu operator radio, komunikasi tidak selalu lancar. Gangguan frekuensi dan keterbatasan perangkat menjadi tantangan tersendiri. Namun jalur itu tetap menjadi satu-satunya penghubung yang dapat diandalkan.
Dalam konteks manajemen bencana, kemampuan menjaga komunikasi di tengah keterbatasan menjadi faktor kunci.
Tanggap Darurat dan Konsolidasi Sistem
MEMASUKI hari kedua dan ketiga, fase tanggap darurat mulai terstruktur. Pemerintah Kabupaten mengaktifkan posko utama dan beberapa posko lapangan.




