Ada laporan dari masyarakat; keluhan kecil yang bagi sebagian mungkin sepele, namun bagi Yuli adalah tanda bahwa masyarakat masih peduli.
“Laporan itu penting. Itu artinya publik mempercayai bahwa suaranya akan didengar,” ungkapnya.
Ia tak datang untuk menghakimi, melainkan menyimak dengan hati. Menyusuri ruang-ruang perawatan, berdialog dengan pasien, mendengar cerita dari perawat dan dokter.
Semua dilakukan bukan untuk mencari salah, melainkan untuk memastikan bahwa setiap aduan adalah peluang perbaikan.
Dan benar, hasilnya tak mengecewakan. Yuli mengakui adanya perubahan positif yang nyata dalam tata kelola dan mutu layanan rumah sakit. “Ada peningkatan yang baik. Ada kesungguhan,” ujarnya, tersenyum.
Dukungan yang Tak Hanya di Atas Kertas
Yang membuat Yuli terkesan bukan hanya semangat dari tenaga medis, tapi juga komitmen Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang yang hadir secara penuh dalam proses ini.
Dari Plt. Sekda, Inspektorat, BPKD, Bappeda, Dinas Kesehatan Kabupaten hingga perwakilan dari Dinas Kesehatan Provinsi Aceh [semua duduk bersama dalam satu ruangan].
Baginya, itu bukan sekadar formalitas. Itu simbol bahwa pelayanan kesehatan adalah tanggung jawab bersama.
“Itu menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam memastikan layanan publik benar-benar berpihak pada rakyat,” ujarnya mantap.
Menerima Kekurangan dengan Lapang Dada




