Di tengah evaluasi, dr. Andika tak mencoba menutupi apa pun. Ia justru dengan jujur mengakui, “Sebagai institusi pelayanan publik, tentu kami tidak luput dari kekurangan. Kesalahan pasti ada di sana-sini. Tapi upaya berbenah terus kami lakukan.”
Kata-kata itu mungkin sederhana, tapi di baliknya tersimpan filosofi penting: keberanian untuk jujur adalah langkah pertama menuju mutu yang sesungguhnya.
Ia sadar, dalam pelayanan publik, persepsi masyarakat adalah cermin yang paling jujur. “Apa yang kami rasa cukup, belum tentu cukup di mata masyarakat,” lanjutnya.
Menjaga Kepercayaan, Merawat Harapan
Kunjungan itu kemudian menjadi refleksi bersama; tentang pentingnya merawat kepercayaan publik. Tentang betapa pelayanan kesehatan bukan sekadar urusan medis, tapi juga moral.
RSUD Muda Sedia kini berbenah, bukan hanya dalam sistem, tapi dalam budaya kerja. Dari ruang pendaftaran hingga ruang ICU, dari dokter hingga petugas kebersihan, semua diajak menanam satu nilai yang sama: empati adalah bagian dari pelayanan.
Dr. Andika menutup pertemuan itu dengan kalimat sederhana, namun menggema di ruang batin banyak orang;
“Komitmen ini bukan seremonial. Ini tentang kemanusiaan. Tentang bagaimana setiap pasien yang datang ke RSUD Muda Sedia pulang dengan harapan [bukan sekadar resep].”
Epilog: Rumah Sakit yang Hidup oleh Hati




