Bahkan sejak sore, warga mulai datang satu-persatu dan puncaknya pada malam hari, benar-benar membludak. Luar biasa ramainya. Mereka, mau berdesak-desakan untuk melihat berbagai hal yang mungkin tidak dijumpainya pada anjungan lain.
Aceh Selatan memang unik dan menarik. Bukan saja, tradisi turun temurun masyarakatnya, budaya, nilai-nilai adat dan hasil alamnya. Rempah-rempah yang kini menjadi thema PKA, adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan rakyatnya. Bermacam-macam rempah pun, seperti pala, cengkeh, kayu manis, nilam, kemiri dan serei serta berbagai jenis lainnya, dipamerkan di Anjungan Aceh Selatan.
Selain pengunjung dalam dan luar daerah, terdapat turis mancanegara yang datang ke Anjungan Aceh Selatan yang terbuat dari bangunan kayu pilihan itu yakni dari Jepang dan Malaysia. Aceh Selatan konsisten dengan tema pelaksanaannya yang mengangkat tagline “Rempahkan Bumi, Pulihkan Dunia”.
Event ini pun, Aceh Selatan benar-benar ingin menghadirkan dan menampilkan suasana kehidupan yang tradisi dan harmoni di tengah heterogenitas masyarakatnya yang berbaur dalam perpaduan tiga suku yakni Suku Aceh. Aneuk Jamee dan Suku Kluet (Kluwat-red).
Dalam anjungan, Aceh Selatan ditampilkan lini peradaban masa lalu, yaitu Aceh Selatan masa lalu, Aceh masa kini, dan Aceh masa depan yang merupakan bagian dari keutuhan Aceh. Maka tak heran, pengunjung PKA ke-8 belum bahagia bila belum tahu tentang Aceh Selatan dan kehidupan masyarakatnya, maka keputusannya, berkunjunglah ke anjungannya.




