Dari Surabaya ke Aceh, Api Pahlawan yang Tak Pernah Padam

Dari Surabaya ke Aceh, Api Pahlawan yang Tak Pernah Padam.

“Mereka bukan sekadar nama yang terukir di batu nisan, melainkan cahaya yang menerangi jalan kita hingga hari ini.”

[Letkol Inf Andi Ariyanto, Kasrem 011/Lilawangsa].

PAGI masih bergelayut di Lapangan Jenderal Sudirman, Korem 011/Lilawangsa, Lhokseumawe, rumputnya masih basah oleh embun pagi yang menjulur bening.

Di tengah udara lembab khas pesisir utara Aceh, barisan prajurit berdiri tegak, seragam mereka menyatu dengan warna tanah yang berembun. Upacara peringatan Hari Pahlawan dimulai tepat pukul delapan.

BACA JUGA...  Dari Sawah ke Sekolah, Dari Masjid ke Masa Depan; Jalan Panjang Membangun Tamiang

Letkol Inf Andi Ariyanto, Kepala Staf Korem 011/Lilawangsa, melangkah mantap menuju mimbar. Suaranya menggema di antara keheningan pagi, membacakan amanat Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf; “Kemerdekaan tidak jatuh dari langit. Ia lahir dari kesabaran, keberanian, kejujuran, kebersamaan, dan keikhlasan.”

Kata-kata itu mengalir pelan tapi dalam. Seolah menggugah kesadaran kolektif bahwa kemerdekaan yang kini dinikmati bukan hadiah, melainkan hasil keringat dan darah para pejuang; dari Surabaya hingga Aceh, dari Ambarawa hingga Biak.

BACA JUGA...  dr. Azizy Gladylola Mastura, Jejak Bakti Sang Putri Jenderal

“Mereka berjuang bukan demi dirinya sendiri, tetapi demi masa depan bangsa yang bahkan belum mereka kenal; kita semua yang berdiri di sini hari ini,” lanjut Kasrem dengan suara bergetar.

Para peserta upacara menundukkan kepala. Tak sedikit mata yang berkaca-kaca ketika nama-nama pahlawan kembali terngiang; Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, dan para pejuang tanpa tanda jasa yang kini hanya diabadikan di batu nisan tak bernama.