Pria yang telah lama bertugas di berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang itu kini berada di garis depan pelayanan kemanusiaan.
“Damkar bukan hanya soal memadamkan api. Kami hadir untuk keselamatan masyarakat dalam kondisi apa pun, terutama saat bencana,” ujar Doni Indrawan kepada wartawan.
Babak Awal Bencana, Saat Kepanikan Menyelimuti Warga
BENCANA ekologis dan hidrometeorologi yang melanda Aceh Tamiang meninggalkan dampak luas terhadap kehidupan masyarakat.
Banjir, kerusakan infrastruktur, sedimentasi sumber air, hingga terganggunya jaringan distribusi membuat ribuan warga kesulitan memperoleh air bersih.
Dalam situasi darurat tersebut, Damkar–BPBD Aceh Tamiang menjadi salah satu instansi yang bergerak cepat.
Pada fase awal bencana, prioritas utama adalah penyelamatan jiwa. Personel Damkar bersama tim gabungan turun mengevakuasi warga, membantu kelompok rentan, serta memastikan titik-titik pengungsian tetap mendapatkan akses air bersih.
Kondisi di lapangan saat itu tidak mudah. Banyak ruas jalan terputus, debit air tidak stabil, dan sejumlah wilayah sulit dijangkau kendaraan besar. Namun, distribusi bantuan tetap dilakukan.
“Ketika masyarakat panik, negara harus hadir. Itu yang kami pegang,” kata Doni.
Distribusi Air Bersih untuk 12 Kecamatan dan 216 Kampung




