“Kita minta kepada pemerintah agar di bantulah RKB ke sekolah tersebut. Kita membutuhkan 9 RKB, dan sekarang belum ada satupun RKB,” ujarnya.
Sekolah tersebut sampai saat ini belum memiliki kantor dewan guru. “Selama ini kalau ada agenda rapat kami gelar rapat di Lab dan duduk dilantai,” ungkapnya.

Mirisnya lagi, kondisi Pesantren Humaniora yang bilik-bilik santri terbuat dari bekasan triplek, maupun MCK nya.
“Sekarang di Pesantren kita ada 30 orang santri, yang mondok sekitar 10 orang santri. Karena yang lain tidak mondok diakibatkan bilik santri tidak bisa dimanfaatkan lagi, karena sudah rusak,” ungkapnya lagi.

Lahan yang dimiliki oleh Yayasan Humaniora yang saat ini ada 20.000 Meter, dari 20.000 Meter tersebut dibagikan untuk Sekolah 10.000 Meter, dan untuk Pesantren Humaniora 10.000 Meter, sebut Yusri Bahrain.
Yusri mengatakan, siswa-siswi yang sekolah di yayasan Humaniora dan yang tinggal di Pesantren itu anak yatim dan fakir miskin. Mereka ada yang tinggal di daerah Aceh maupun diluar Aceh.”Kita usahakan anak yatim dan fakir miskin bisa bersekolah, seperti yang diamanatkan dalam UUD 1945 Pasal 34 ayat 1,” ujarnya.




