Menjemput Solusi, Bukan Menunggu.
Proposal setebal beberapa halaman itu bukan sekadar daftar permintaan, melainkan peta jalan menuju ketangguhan daerah.
Di dalamnya, 11 usulan utama tertulis jelas: mulai dari rehabilitasi jalan dan pengaman tebing di Pulau Tiga, Tamiang Hulu, hingga Kampung Selamat, Tenggulun, sampai rekonstruksi lima jembatan di Seruway dan Bandar Pusaka.
Sebagian dari jembatan itu kini sudah mulai rapuh, dihantam derasnya arus banjir yang datang setiap tahun tanpa undangan.
“Kalau tidak segera diperbaiki, jalur transportasi masyarakat akan terputus,” kata seorang staf BPBD Aceh Tamiang yang ikut mendampingi rombongan.
Selain infrastruktur fisik, Pemkab Aceh Tamiang juga mengajukan lima jenis kendaraan siaga bencana; mobil toilet, mobil serbaguna, mobil dapur umum, mobil dobel kabin, dan tenda pleton. Semua itu demi memperkuat respon cepat tim kebencanaan. Sebab bagi daerah seperti Tamiang, kesiapsiagaan bukan pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
“Kami tidak ingin hanya menunggu bantuan datang saat bencana terjadi. Kami menjemput solusi sebelum air kembali naik.”
Irjen Pol. (P) Drs. Armia Pahmi, MH, Bupati Aceh Tamiang
Membangun dari Luka Alam.
Upaya ini bukan sekadar soal pembangunan fisik. Di balik angka-angka usulan, ada ratusan keluarga yang setiap musim hujan menatap genteng rumahnya khawatir akan robek diterpa arus. Ada petani yang kehilangan lahan dan guru yang tetap mengajar di sekolah tergenang.




