“Kami tidak ingin hanya menunggu bantuan datang saat bencana terjadi. Kami menjemput solusi sebelum air kembali naik.”
[Irjen Pol. (P) Drs. Armia Pahmi, MH, Bupati Aceh Tamiang]
SELASA SIANG ITU terasa lebih teduh meski langit masih menyisakan warna kelabu. Di antara lalu-lalang pejabat daerah menghadiri Rapat Koordinasi Penanganan Bencana se-Aceh 2025.
Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol. (P) Drs. Armia Pahmi, MH, tampak membawa setumpuk berkas tebal berlogo Pemerintah Kabupaten. Di tangannya, tersimpan sebelas harapan yang dibungkus dalam satu kata [usulan].
Aceh Tamiang bukan nama baru dalam peta kerawanan bencana di Aceh. Setiap musim penghujan, daerah di ujung timur provinsi ini selalu jadi langganan banjir.
Sungai Tamiang kerap meluap, menghanyutkan sawah, rumah, bahkan mimpi sebagian warga yang baru saja memulai kembali kehidupan pasca banjir sebelumnya.
“Untuk situasi tempat kami sama seperti Aceh Tenggara dan Gayo Lues, kami memang daerah rawan banjir,” ujar Bupati Armia seusai menyerahkan proposal kepada Kepala BNPB, Letjen TNI Dr. Suharyanto, MM, di Kantor Gubernur Aceh.
Ucapannya terdengar tenang, tapi dalam sorot matanya tersimpan kegigihan seorang pemimpin daerah yang sedang berjuang di tengah keterbatasan.




