Triliunan sudah anggaran dikucurkan, namun dalam proses pelaksanaan program yang dicetuskan banyak menuai masalah, banyak proyek berserta aset terbengkalai, seperti pelabuhan perikanan di pulo Aceh, pembangunan sumber air bersih di Pulo Aceh, pembebasan tanah sarat masalah, dan lainnya, lebih hebat lagi malah ada pimpinan BPKS terjerat hukum di tangkap KPK dan di penjara.
BPKS juga tidak mampu memboyong para investor ke Sabang, biarpun pimpinan BPKS bersama Dewan Kawasan Sabang (Gubernur) sudah melakukan kunjungan ke berbagai negara. Namun tak dapat hasil apapun, biarpun miliaran anggaran sudah dikeluarkan, tambah ironis lagi banyak para investor sudah datang ke Sabang, namun tidak lama bertahan, dengan berbagai alasan akhirnya hengkang dari Sabang.
Usman melihat kegagalan itu lebih pada manajerial dan leadership-nya, ditambah lagi setiap pergantian pimpinan managemen BPKS, acap sekali terjadi hiruk pikuk yang bernuansa politis, dalam menentukan dan menetapkan pimpinan BPKS.
Pimpinan managemen BPKS dalam pemilihan dan penunjukan tidak profesional, di indikasi kuat ada unsur nepotisme, sehingga diinternal pimpinan dan SDM BPKS tidak solid, acap sekali terjadi konflik internal. Sehingga dalam pengelolaan managemen SDM BPKS amburadul, menyebabkan tidak patuh pada atasan, dan tidak bisa diatur.




