“Pengoperasian bendungan ini menandai berakhirnya masa sulit petani. Kini mereka bisa kembali menggarap sawah dengan harapan hasil panen yang lebih baik,” katanya.
Adapun wilayah yang akan kembali menerima suplai air irigasi dari Bendungan Krueng Pase meliputi Kecamatan Meurah Mulia, Samudera, Syamtalira Bayu, Matang Kuli, Syamtalira Aron, Tanah Luas, Nibong, Tanah Pasir di Kabupaten Aceh Utara, serta Kecamatan Blang Mangat di Kota Lhokseumawe.
Muntasir merinci, jaringan irigasi yang telah direhabilitasi mencakup saluran induk sepanjang 32,82 kilometer, saluran sekunder 112,36 kilometer, serta jaringan tersier dan fasilitas pendukung lainnya. Dengan perbaikan tersebut, layanan irigasi kini kembali optimal pada area kanan seluas 5.614 hektare dan area kiri 3.308 hektare.
Bendungan Krueng Pase sendiri merupakan infrastruktur peninggalan era kolonial Belanda yang mengalami kerusakan parah akibat banjir besar dan tingginya debit air pada tahun 2020. Upaya rehabilitasi yang dimulai sejak 2021 sempat menghadapi berbagai kendala, termasuk bencana banjir susulan.
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Balai Wilayah Sungai Sumatera I atas perhatian dan komitmen dalam mempercepat pemulihan infrastruktur vital tersebut.




