BANNER IKLAN

Akmal Rusli Kecam Walikota Banda

  • Bagikan

example banner

 48 total views,  1 views today

example banner

Laporan | Iqbal

Banda Aceh (MA) – Akmal Rusli juru Bicara Lembaga kemanusiaan Eddie Foundation mengecam keras Walikota Banda Aceh atas tindakannya yang tidak peduli atau peka terhadap saran dan masukan dari berbagai elemen terkait pembangunan Proyek Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) di Gampong Pande, Kamis, (18-03/2021)

Lanjutnya, Walikota Banda Aceh tetap bersikukuh ingin memaksakan untuk melanjutkan Proyek pembuangan tinja di Makam Situs Cagar Budaya peninggalan sejarah Indatu Bangsa Aceh saat masa lalu kejayaan Aceh Darussalam

Walikota harusnya mengedepankan akal sehat dengan mendengarkan aspirasi rakyat Aceh atas lokasi situs sejarah tersebut untuk dilestarikan kepada anak cucu bangsa Aceh untuk segera mengambil langkah menyelamatkan Makam-Makam Keunebah Indatu yang sudah lama berjuang dan berjasa dalam Berjuang untuk kepentingan rakyat Aceh di masa lalu, kata Akmal.

Aceh beberapa puluhan Abad yang lalu pernah terjadi sebuah peristiwa sejarah pada masa emas kejayaannya Kesultanan Aceh Darussalam.

Malah sebaliknya kata Akmal, seperti Manusia Rakus, dengan sikap tangan besinya yang tetap memaksakan untuk menghancurkan aset peninggalan peristiwa sejarah Aceh sebagai bangsanya sendiri, demi mengedepankan syahwat nafsu proyek fisik dengan tetap bersikukuh secara sepihak melanjutkan proyek IPAL di Makam cagar budaya para indatu demi kepentingan pribadinya dan kelompok rekanan tertentu.

Padahal tambah Akmal selaku pemerhati sejarah asal Bireuen ini, banyak protes dari berbagai kalangan masyarakat, mahasiswa, akademisi, Ulama Aceh dan dari Sejarawan dalam negeri ataupun pemerhati sejarah luar negeri dari Turki, Aktivis pemerhati sejarah Aceh maupun aktivis kemanusiaan dalam negeri negeri jawi jawi maupun Luar Negeri, untuk meminta dan mendesak Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman segera menghentikan pelaksanaan proyek tinja tersebut dari upaya pemakzulan titik cagar budaya Aceh untuk mencoba menghilangkan rekam jejak sejarah Aceh yang terletak di situs bersejarah Gampong Pande.

Namun Walikota Banda Aceh tidak peduli atas masukan dan kritikan penyelamatan sejarah sesuatu bangsa wajib dilindungi, apapun modus alasanya. Sungguh sangat ironi dan miris pola penjajahan gaya baru mulai dipraktekan oleh para tangan yang jahil dan Dzalim yang coba membungkam hak hak pembangunan sejarah Bangsa Aceh akan dibinasakan, akibat pembangunan proyek fisik dengan mengabaikan proses pemeliharaan dan perawatan serta penyelamatan Sejarah Bangsa sendiri, pungkas Akmal putra Aceh yang bermukim di Jakarta.

Terkait kasus pembuangan tinja di Makam Indatu, Mehmet Özay salah seorang Ilmuwan asal Turki telah menyampaikan beberapa pendapatnya dan pandangan nya tentang pentingnya menjaga kawasan warisan Cagar budaya di Kota Banda Aceh. Ia menyampaikan sangatlah penting untuk melindungi kota dan suatu wilayah ada aset warisan sejarah yang merupakan hak azasi manusia bagi setiap bangsa di dunia, dimana Banda Aceh hari ini yang telah menerapkan kebijakan Wisata Islami kepada masyarakat dunia dan juga harusnya mampu menjaga warisan Peradaban sejarah Islam yang terjadi di masa yang lalu di kota Banda.

Aceh (Koetaraja atau Pusat Kerajaan Aceh Darussalam), melalui kebijakan islamisasi kota dengan melibatkan lembaga-lembaga yang mapan, sebagaimana dahulu kala sejak abad ke 11 Aceh telah dikenal sebagai subjek dalam perdagangan dunia dan hubungan regional maupun internasional, ujarnya Mehmet Özay.

Buku Kesultanan Aceh Darussalam (Açe Sultanlığı ) yang di tulis oleh Mehmet Özay yang dipublikasikan Oleh Universitas Muhammad Al-fatih, Istanbul, 2018.

Menurut Özay , Berdirinya pemukiman di kawasan di kawasan barat laut di pintu keluar masuk Selat Malaka juga telah menjadi suatu bukti soal keterkaitannya dengan dunia luar, terutama melalui dunia Melayu dan Teluk Benggala serta Samudera Hindia.

Mengikuti perkembangan situs yang berpusat di Banda Aceh pada tahap-tahap awal sejarah dan periode selanjutnya, Pande menjadi lokasi yang berafiliasi dengan kawasan istana di Kesultanan Aceh Darussalam yang didirikan semenjak pada tahun 1510-an.

Dalam hal ini, fakta bahwa Kampung Pande telah menjadi wilayah yang menjadi pusat keluarga dinasti kesultanan Aceh dengan adannya makam makam kuburan para guru terkemuka penasehat kesultanan Aceh pada masa itu yang masih bisa kita lihat sampai hari ini bukti sejarah itu ada.

Gampong Pande dinamakan karena pada masanya merupakan tempat penempaan alat-alat pandai besi dan alat-alat perang lainnya, merujuk pada kata “pande” berarti adalah kawasan yang sarat akan “kepandaian” atau “keahlian” atau “muhendis” dalam bahasa Turkinya. Pande juga berarti “perak” sejenis logam yang sering digunakan oleh para ahli untuk membuat peralatan perang dan permesinan dan karena itulah kawasan ini, menurut Ozay menonjol dengan keahliannya dalam sejarah Aceh.(*).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *