Adapun tujuan dari pelatihan ini adalah pertama, meningkatkan kemampuan jurnalis perempuan dalam menulis isu perempuan dan anak di Aceh.
Kedua membangun kepedulian berbagai pihak, dalam hal ini jurnalis/media massa untuk merespon isu perempuan dan anak;
Ketiga meningkatkan pengetahuan tentang kode etik penulisan isu perempuan dan anak.
Keempat, membangun sikap kritis jurnalis perempuan pada kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Aceh .
Serta terakhir, meningkatkan fungsi kontrol sosial, kebijakan pemerintah, terkait pemenuhan hak perempuan dan anak di Aceh.
Direktur Eksekutif Flower Aceh, Riswati mengungkapkan, anak-anak menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual tertinggi di Aceh dengan modus beragam dan pelakunya orang-orang terdekat atau tokoh berpengaruh yang harusnya melindungi.
Sementara pada perempuan, kasus paling tinggi yaitu Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
“Dampaknya tidak berhenti sampai peristiwa itu terjadi. Tapi juga rentetan dampak panjang mulai psikis, fisik, hingga dampak sosial,” beber Riswati.
Sementara itu, Sekjen AJI Indonesia yang juga Jurnalis Tempo, Ika Ningtyas berharap, jurnalis perempuan lebih banyak memberitakan isu perempuan, kaum marginal, dan anak.




