Abu Salam: Juha Christensen Pembual, Pendusta, dan Menyembunyikan Fakta MoU Helsinki

Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Luar Negeri, T. Emi Syamsyumi alias Abu Salam.

“Kalau hanya otonomi luas, itu bukan hal baru. Daerah lain di Indonesia juga bisa menuntut hal yang sama. Tapi Aceh mendapat pengakuan khusus berupa self-government—dan itu tertulis. Jadi pernyataan Juha jelas-jelas menyesatkan publik,” ungkap Abu Salam.

Ia juga mengkritik keras narasi Juha yang menyebut Malik Mahmud sebagai entry point karena cepat memahami realitas global.

BACA JUGA...  SPS Riau Umumkan Kepengurusan Baru 2025-2029, Siap Hadapi Tantangan Media

Menurut Abu Salam, pernyataan itu seakan menegasikan peran kolektif GAM, terutama para kombatan di lapangan dan jaringan internasional yang ikut menekan agar perundingan menghasilkan kesepakatan bermartabat.

“Seolah-olah Malik seorang diri yang membuat semuanya berjalan. Itu narasi yang dilebih-lebihkan. Juha memang lihai bercerita, tapi sering tak sesuai fakta,” sindir Abu Salam.

BACA JUGA...  Mahkamah Syar'iyah Jantho MoU dengan Badan Pertahanan Nasional Aceh Besar

Abu Salam juga menepis klaim Juha yang menyebut sebagian besar poin MoU sudah terealisasi.

Menurutnya, implementasi di lapangan masih jauh dari komitmen awal, terutama dalam hal hak politik lokal, pengelolaan sumber daya alam, serta penegasan status Aceh dengan self-government.

“Kalau Juha bilang MoU sudah 70–80 persen dijalankan, itu lagi-lagi omong kosong. Realitasnya, banyak poin krusial diabaikan. Bahkan UUPA yang disebut produk turunan, telah menggerus semangat MoU dengan tafsir sepihak pemerintah,” ujar Abu Salam.