Lebih jauh, Abu Salam menuding Juha sengaja memanfaatkan momentum 20 tahun perdamaian Aceh untuk mencari panggung pribadi dengan melontarkan narasi provokatif.
“Juha ini bukan malaikat perdamaian. Ia mediator bayaran, dan sekarang masih ingin menulis ulang sejarah sesuai seleranya. Padahal kami, para kombatan dan rakyat Aceh, yang menanggung luka dan darah,” tegas Abu Salam.
Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa Aceh tidak boleh dibiarkan terus-menerus dikerdilkan oleh tafsir sepihak, apalagi dari seorang mediator asing yang menurutnya, “lebih suka bersilat lidah daripada berkata jujur,” pungkasnya. (R)




