BANDA ACEH | MA — Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Luar Negeri, T. Emi Syamsyumi alias Abu Salam, angkat suara keras membantah pernyataan Mediator damai Helsinki, Juha Christensen, yang baru-baru ini mengulas kembali proses perundingan antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Indonesia di kanal YouTube SagoeTV, pada, Senin (18/8/2025).
Dalam wawancara tersebut, Juha menegaskan bahwa perdamaian Aceh lahir karena faktor “kelelahan perang” (war fatigue), serta menutup rapat-rapat kemungkinan kemerdekaan Aceh.
Bahkan ia menyebut MoU Helsinki tidak pernah menyebut istilah self-government, melainkan hanya mengatur soal otonomi luas.
Namun, klaim itu langsung dibantah telak oleh Abu Salam.
“Juha itu pembual dan pendusta. Dokumen MoU Helsinki jelas-jelas menyebutkan self-government bagi Aceh. Ia sedang menutupi fakta sejarah dan memutarbalikkan isi kesepakatan,” tegas Abu Salam dalam keterangannya kepada media, Kamis (28/08/2025).
Abu Salam menegaskan, sejak awal perundingan Helsinki, poin krusial yang diperjuangkan GAM adalah pengakuan atas kewenangan Aceh dalam bentuk self-government.
Hal inilah, menurutnya, yang menjadi diferensiasi paling mendasar antara MoU Helsinki dengan format otonomi daerah biasa.




