LHOKSUKON | MA — Musibah banjir yang melanda Kabupaten Aceh Utara pada akhir tahun 2025 menjadi titik balik bagi masyarakat Gampong Alue Capli, Kecamatan Seunuddon. Jika sebelumnya mayoritas warga menggantungkan hidup dari sektor tambak, kini sebagian kawasan tambak telah disulap menjadi lahan persawahan yang menjanjikan hasil lebih baik.
Inovasi tersebut diprakarsai oleh Geuchik Gampong Alue Capli, Effendi, S.Pi, yang akrab disapa Geuchik Pon. Alumni Universitas Abulyatama (Unaya) Banda Aceh itu mengungkapkan, perubahan fungsi lahan dilakukan setelah melihat hasil tambak yang terus menurun, terlebih setelah diterjang banjir.
“Kami melihat kondisi pascabanjir justru menjadi momentum untuk mencari solusi yang lebih menguntungkan masyarakat. Setelah melalui musyawarah bersama para pemilik tambak, akhirnya disepakati mengubah sekitar 40 hektare tambak menjadi lahan sawah,” ujar Geuchik Pon, Jumat (24/7).
Menurutnya, seluruh lahan yang dialihfungsikan merupakan milik masyarakat. Pemerintah gampong tidak mengambil keputusan secara sepihak, melainkan mengedepankan musyawarah dan kesepakatan bersama.
“Alhamdulillah, masyarakat sangat mendukung. Selama ini pendapatan dari tambak tidak lagi sebanding dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan. Karena itu, kami mencoba alternatif dengan menanam padi,” katanya.




