Di Garis Depan Banjir Tamiang, ‘Ujian Kepemimpinan Armia Pahmi’

“Bencana ini mengajarkan kami bahwa kecepatan saja tidak cukup. Harus ada ketepatan, koordinasi, dan yang paling penting [kehadiran nyata di tengah masyarakat].”

[Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH]

  • Dari malam pertama [25 November 2025] bencana hingga tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, respons cepat Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang menunjukkan kombinasi kepemimpinan lapangan, koordinasi darurat, dan kerja teknokratis yang diuji dalam krisis.
BACA JUGA...  “Lontar di Serambi Mekah”

Malam Ketika Air Mengambil Alih

HUJAN turun tanpa jeda sejak sore. Di wilayah hulu, debit air meningkat drastis. Namun, seperti banyak bencana lainnya, tanda-tanda awal itu tidak serta-merta diterjemahkan sebagai ancaman besar.

Hingga malam tiba.

Sekitar tengah malam, air mulai masuk ke permukiman warga di beberapa kecamatan. Awalnya setinggi mata kaki. Dalam waktu singkat, meningkat hingga lutut, lalu pinggang.

BACA JUGA...  Besok, Ayah Wa Serahkan DTH 14 Kecamatan Secara Simbolis di Tanah Jambo Aye 

Di beberapa titik, arus menjadi deras dan membawa material dari hulu [kayu, lumpur, bahkan serpihan bangunan].

Listrik padam. Jaringan komunikasi terputus. Warga terjebak dalam gelap, hanya ditemani suara air yang terus naik.

Di saat sebagian besar orang berusaha menyelamatkan diri, satu keputusan diambil oleh Bupati Aceh Tamiang. Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, SH; [turun langsung ke lapangan malam itu juga].