Seorang ibu di Lubuk Sidup merangkum semuanya; “Waktu air naik, kami kehilangan arah. Waktu tenda datang, kami seperti menemukan rumah lagi.”
DI BALIK tenda-tenda keluarga yang kini berdiri di dataran-dataran berlumpur Aceh Tamiang, tersimpan perjalanan rumit bernama akses, koordinasi, dan waktu yang hilang.
Bencana ekologi geometeorologi awal Desember itu bukan hanya merendam rumah dan sawah, tapi juga telunjukkan masalah lama; rapuhnya infrastruktur penopang kehidupan di hilir Sungai Tamiang.
Ketika air bah menutup lintas negara Medan–Kualasimpang sepanjang beberapa kilometer, Aceh Tamiang berubah menjadi kepulauan kecil yang saling terputus.
Kampung-kampung hanya bisa diakses dengan perahu darurat atau helikopter jika cuaca mengizinkan. Pada titik itu, BPBD Aceh Tamiang harus menghitung jam—bukan hari—untuk memastikan bantuan dari BNPB Pusat tidak tertahan di gudang.
Namun fakta investigasi di lapangan menunjukkan, sebelum 2 Desember akses belum memungkinkan. Truk logistik tak mungkin memaksa masuk. Jembatan dan ruas jalan digenangi air setinggi 2 meter, dan jaringan listrik padam total.
Mukim Kemukiman Bandar Pusaka, Ucak, adalah satu dari puluhan saksi yang mengalami bagaimana isolasi itu membuat warga seperti hidup di ruang hampa.
[Ucak, Mukim Kemukiman Bandar Pusaka]; “Akses baru terhubung 2 Desember. Begitu jalan bisa dilalui, BPBD langsung bergerak. Tanpa itu, tenda keluarga BNPB mustahil bisa masuk ke kampung kami.”
Ketika Waktu Menjadi Musuh Utama




