Oleh: Teungku Muhsin
PERNYATAAN anggota DPR-RI Beny K Harman atau Benediktus Kabur dan lebih dikenal dengan nama Benny Kabur Harman tentang MoU Helsinki mendapat tanggapan dari berbagai kalangan di Aceh.
Saya juga menilai ucapan anggota DPR-RI itu tidak pantas, karena mengolok-olok perdamaian Aceh dengan mengatakan, sedikit-sedikit Helsinki, sedikit-sedikit Helsinki.
Dengan ekspresi serius dan sinis, dia mempermainkan kata Helsinki.
Ucapannya itu adalah tindakan yang tidak hanya menyinggung perasaan masyarakat Aceh, tetapi juga menunjukkan ketidaktahuan mendasar terhadap sejarah, pengorbanan, dan luka panjang yang dialami oleh rakyat Aceh.
Helsinki bukan sekadar nama kota, tetapi saksi bisu dari babak baru yang mengakhiri puluhan tahun konflik bersenjata di Aceh.
Di sanalah rasa sakit dipertemukan dengan harapan, di sana pula jalan pulang dibuka bagi ribuan keluarga yang terpisah oleh perang.
Mengolok-olok Helsinki sama halnya dengan meremehkan ribuan nyawa yang hilang syuhada, warga sipil, ulama, perempuan, dan anak-anak yang tidak pernah sempat menikmati indahnya kedamaian yang kita rasakan sekarang.
Ketika Beny dengan mudahnya menjadikan perdamaian Aceh sebagai bahan candaan, hal itu menunjukkan betapa dangkalnya pemahamannya terhadap nilai sejarah dan kemanusiaan.




