DUNIA  

Seabad Luka Palestina: Dari Pendudukan ke Genosida

GAZA (MA)– Seabad Luka Palestina: Dari Pendudukan ke Genosida. Judul yang tepat untuk menggambarkan kondisi bangsa Palestina. Sungguh menyedihkan.  Berikut ulasannya;

Tak ada kisah yang lebih panjang dan berdarah di abad modern selain kisah Palestina. Di tanah yang dahulu disebut suci oleh tiga agama langit, kini hanya tersisa reruntuhan masjid, dinding gereja yang retak, dan bisu tak bertepi dari generasi yang terus dikorbankan. Sejak Zionisme menancapkan kuku pertamanya pada akhir abad ke-19, tanah Palestina berubah dari ladang pertanian dan perkampungan damai menjadi arena genosida yang disahkan secara internasional.

Brutalnya Blokade Israel di Gaza - (Republika)
Brutalnya Blokade Israel di Gaza – (Republika)

Setiap nama desa yang hilang, setiap kunci rumah yang kini digantung di leher para pengungsi, adalah bukti tak terbantahkan dari sebuah proyek pemusnahan bangsa yang berjalan perlahan tapi pasti. Dari pengusiran massal tahun 1948, penindasan brutal di Intifada, blokade Gaza yang mematikan, hingga pembantaian massal yang sedang berlangsung sejak 2023—Palestina telah menjadi lambang dari sebuah dunia yang gagal menjaga nuraninya sendiri.

Kini, lebih dari seratus ribu warga Gaza terbunuh hanya dalam satu tahun terakhir, sebagian besar di antaranya perempuan dan anak-anak. Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Mereka adalah nama, wajah, dan keluarga yang lenyap dalam diam. Dunia menyaksikan genosida ini siaran langsung, tapi memilih mengalihkan pandangan.

Tulisan ini adalah rangkaian luka yang disusun dalam kata. Sebuah upaya merekam sejarah yang hendak dihapus, mengenang yang terbunuh, dan mengingatkan bahwa Palestina bukan tragedi asing. Ia adalah cermin kemanusiaan kita yang retak—dan mungkin tak akan pernah utuh lagi.

Genosida sendiri bermakna kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan, secara keseluruhan atau sebagian, suatu kelompok nasional, etnis, ras, atau agama. Istilah ini pertama kali digunakan pada tahun 1944 oleh Raphael Lemkin, seorang pengacara Yahudi-Polandia.

Dari Kongres Zionis 1897 hingga laporan Haaretz 2025 tentang 100.000 kematian dalam satu tahun di Gaza, inilah narasi luka Palestina yang terus disayat. Satu generasi demi generasi tumbuh dalam pengungsian, ditindas oleh peluru, dan dimakamkan tanpa nisan. Ini bukan soal angka, ini tentang sebuah bangsa yang terus dibungkam.

Awal Kudeta Atas Tanah Suci

BACA JUGA...  Protes Malaysia, Ternyata PDIP Sempat Pasang Bendera Merah Putih Terbalik

Musim panas tahun 1897, di kota kecil Basel, Swiss, sekelompok intelektual Yahudi dari Eropa Tengah dan Timur berkumpul. Mereka bukan datang membawa doa, tapi rancangan masa depan yang akan mengubah wajah Timur Tengah. Kongres Zionis Pertama itu, dipimpin Theodor Herzl, menetapkan satu cita-cita: mendirikan negara Yahudi di Palestina—tanah yang tak pernah mereka tinggali, tapi diklaim sebagai “janji Tuhan”.

Pada tahun 1917, Inggris menegaskan ambisi kolonial itu lewat Deklarasi Balfour. Sebuah kalimat pendek yang menyulut satu abad penderitaan: “Pemerintah Inggris menyokong pendirian tanah air nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina.” Saat itu, 90% penduduk Palestina adalah Arab-Muslim dan Kristen. Namun dalam hitungan dekade, lewat proyek kolonisasi, pembelian tanah paksa, serta perlindungan imperial Inggris, koloni-koloni Zionis menjamur dan menggusur desa-desa lokal.

Tahun 1947, PBB mengesahkan rencana pembagian Palestina—55% untuk negara Yahudi, meski mereka hanya memiliki 6% tanah secara legal. Tahun berikutnya, mimpi Zionis menjadi kenyataan kelam bagi rakyat Palestina. Ketika Inggris angkat kaki dan milisi Zionis memproklamasikan “Israel”, dimulailah pengusiran sistematis: Nakba.

Lebih dari 750.000 warga Palestina diusir dari rumah mereka. Sekitar 530 desa dibakar dan diratakan. Deir Yassin, Tantura, Lydda, dan setidaknya 30 lokasi lainnya menjadi situs pembantaian. Rakyat tak hanya kehilangan tanah, tapi sejarah, identitas, dan masa depan. Yang tersisa hanyalah tenda-tenda pengungsian dan kunci rumah yang tak bisa lagi dibuka.

Hari itu, Palestina tidak kalah perang. Palestina dihapus.

Intifada dan Darah yang Membatu

Ketika pengusiran selesai, pendudukan dimulai. Tepi Barat dan Gaza direbut Israel pada 1967 dalam Perang Enam Hari. Sejak itu, tentara bersenjata lengkap mengontrol kehidupan harian jutaan warga Palestina. Jalan-jalan diblokir, rumah dihancurkan, dan kebun zaitun yang tumbuh ratusan tahun dibakar. Palestina dipisahkan oleh tembok, checkpoint, dan kebijakan diskriminatif. Tapi penindasan bukan akhir dari segalanya.

Pada 1987, dari kamp pengungsi Jabaliya, meletus gelombang amarah yang disebut Intifada Pertama. Dipicu kematian empat anak dalam kecelakaan yang disengaja oleh militer Israel, ribuan remaja turun ke jalan dengan batu di tangan. Dunia untuk pertama kali melihat anak-anak melawan tank, dengan nyali sebagai tameng. Selama enam tahun, lebih dari 1.000 warga Palestina tewas, ribuan luka-luka dan ditangkap.

BACA JUGA...  Warga Kluet Utara "Lawan" Zionis Israel

Namun ketidakadilan tidak berhenti. Setelah kegagalan Perjanjian Oslo dan provokasi Ariel Sharon ke Masjid Al-Aqsa, Intifada Kedua meletus pada 2000. Kali ini lebih brutal. Israel melancarkan operasi militer besar-besaran: tank di kamp pengungsi, pesawat mengebom kota padat penduduk, dan pembunuhan target yang merenggut nyawa ratusan warga sipil.

Lebih dari 4.500 warga Palestina tewas dalam lima tahun. Sekolah menjadi medan tempur, rumah sakit diserang, anak-anak menjadi martir. Yang paling menyakitkan, dunia mulai menyamakan batu dengan senapan, mulai menyebut korban sebagai pelaku. Dalam narasi global, Palestina kehilangan suaranya—namun tidak keberaniannya.

Intifada bukan sekadar pemberontakan. Ia adalah pengingat bahwa rakyat yang terjajah tak akan diam. Mereka mungkin tak menang, tapi mereka menolak untuk hilang.

Gaza Terkepung

Dari udara, Gaza terlihat seperti sel tahanan raksasa yang dipagari laut dan kawat berduri. Sejak kemenangan Hamas dalam pemilu 2006, Israel bersama Mesir dan sekutu Barat menerapkan blokade total atas wilayah sempit ini. Tidak ada pelabuhan, tidak ada bandara, listrik hanya menyala beberapa jam, dan pasokan air bersih sangat terbatas. Dua juta lebih manusia dipenjara di rumah mereka sendiri.

Gaza tidak pernah benar-benar bebas. Dalam selang waktu rutin, ia dibombardir. Tahun 2008, 2012, 2014, 2021—selalu dengan alasan “membasmi teror”, padahal yang terbakar adalah rumah warga sipil. Pada 2014, dalam Operasi Protective Edge, Israel membunuh lebih dari 2.200 warga Palestina, 551 di antaranya anak-anak. Sekolah milik PBB, rumah sakit, bahkan pusat rehabilitasi diserang.

Blokade ini menciptakan bencana kemanusiaan yang perlahan: anak-anak tumbuh dengan tubuh kerdil karena kekurangan gizi, pasien kanker meninggal sebelum mendapat izin keluar, dan ribuan mahasiswa kehilangan kesempatan belajar karena tak bisa ke luar negeri. Ketika pandemi melanda dunia, Gaza tak memiliki alat tes, tak punya ventilator cukup, dan hanya belasan ICU berfungsi.

Tapi Gaza tak hanya terluka. Ia juga bangkit. Warga menanam di atap rumah, anak-anak belajar di bawah puing, dan para ibu menulis puisi tentang tanah yang dijanjikan Tuhan. Gaza bukan hanya tempat, tapi simbol. Simbol ketabahan yang bertahan meski dihancurkan, dikurung, dan diabaikan.

BACA JUGA...  Setelah Lebanon, PPWI Buka Kantor Perwakilan di Libya

Gaza berkata: kami masih hidup. Dan kami belum menyerah.

Genosida Abad ke-21

Pada 7 Oktober 2023, ledakan mengguncang selatan Israel. Hamas meluncurkan serangan yang menewaskan lebih dari 1.200 warga sipil dan tentara Israel. Dunia mengecam. Tapi balasan Israel berubah menjadi genosida terbuka. Di bawah dalih perang melawan teror, Gaza dijatuhi bom setiap hari selama berbulan-bulan. Tidak ada tempat aman, tidak ada zona bebas.

Rumah sakit al-Shifa dibom. Kamp pengungsi Jabaliya dihancurkan. Sekolah PBB diserang. Bayi-bayi terbakar hidup-hidup. Bantuan kemanusiaan ditahan. Truk-truk makanan dijarah tentara. Kelaparan dijadikan senjata. Lebih dari 1,7 juta warga mengungsi di jalur tanah sempit tanpa air, tempat tinggal, atau jaminan hidup.

Hingga Juni 2025, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 56.000 korban jiwa. Namun laporan investigatif Haaretz, media Israel sendiri, menyebutkan jumlah riil mungkin mencapai 100.000 jiwa—sekitar 4% populasi Gaza. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak.

Profesor Michael Spagat dari Universitas London menyebut Gaza sebagai “konflik paling berdarah dengan rasio korban sipil tertinggi di abad ke-21”. Angka kematian anak-anak dan wanita dua kali lebih tinggi dibanding konflik di Kosovo, Sudan, atau Suriah.

Genosida ini bukan rahasia. Dunia tahu. Foto-foto menyebar luas, video tangisan anak-anak ditonton jutaan kali. Tapi dunia memilih diam. Negara-negara besar justru mengirim senjata ke Israel. Sidang-sidang PBB diblokir. Kata “genosida” dianggap terlalu sensitif, padahal darah sudah tumpah sampai ke karpet diplomasi.

Jika sejarah adalah cermin, maka wajah kemanusiaan telah retak.

Palestina Adalah Luka Kita Semua

Dari Nakba 1948 hingga Gaza 2025, jumlah warga Palestina yang tewas telah melampaui 150.000 jiwa. Ini belum termasuk yang mati di pengungsian, yang tewas karena kelaparan, atau yang lenyap tanpa nama. Palestina tidak kekurangan korban, tapi dunia kekurangan keberanian untuk berkata cukup.

Setiap jenazah anak di Gaza bukan statistik. Ia adalah pertanyaan: siapa yang akan bertanggung jawab? Setiap rumah yang dibom adalah dakwaan terhadap tatanan dunia yang lebih memilih investasi senjata daripada penyelamatan jiwa. Dan setiap doa yang dipanjatkan dari masjid yang setengah roboh adalah harapan yang belum padam.

Palestina tidak butuh kasihan. Ia butuh keadilan. (MU/Red)