BANDA ACEH (MA) — Tak terasa, sudah 19 tahun berlalu sejak perdamaian di Aceh terwujud. Namun, perjalanan Aceh menuju kesejahteraan tidaklah mudah. Selama hampir dua dekade ini, Aceh harus menghadapi berbagai dinamika politik yang kompleks. Mulai dari perseteruan antara rakyat dan pemerintah, konflik antara legislatif dan eksekutif, hingga konflik di kalangan elit politik.
Tak hanya itu, Aceh juga dihadapkan pada berbagai masalah seperti kemiskinan, pengangguran, korupsi yang merajalela, kisruh anggaran pokok pikiran (pokir), masalah pendidikan, serta krisis kepemimpinan, kata pengamat politik Dr. Usman Lamreung,M.Si pada media lewat siaran persnya, Jum’at, (16/8).
“Perdamaian Aceh adalah anugerah yang patut disyukuri. Perdamaian ini membuka kesempatan bagi rakyat Aceh untuk keluar dari berbagai keterpurukan dan mencapai cita-cita mulia, yaitu kesejahteraan rakyat dan pembangunan Aceh yang bermartabat,” ujarnya.
Namun, katanya, harapan dan cita-cita rakyat Aceh tersebut hingga saat ini masih jauh dari kenyataan. Meskipun perdamaian sudah berusia 19 tahun, rakyat Aceh masih menghadapi berbagai masalah serius, seperti kemiskinan yang masih stagnan, daya beli yang lemah, pengangguran yang tinggi, serta korupsi yang semakin masif.




