Selain itu, lanjutnya, tata kelola pemerintahan yang bermasalah, penerapan Syariat Islam yang kurang serius, rendahnya Pendapatan Asli Daerah, dan berbagai masalah lainnya masih menjadi tantangan besar.
Apakah Aceh akan terus begini?
Kepemimpinan yang silih berganti melalui proses pemilihan langsung atau Pilkada belum memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat Aceh. Meskipun Aceh telah menerima dana otonomi khusus (otsus) yang mencapai 100 triliun rupiah, namun kemiskinan, pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi di berbagai sektor masih berjalan lambat, bahkan cenderung stagnan, tambahnya.
Lanjutnya, Aceh memiliki sumber daya alam yang melimpah dan pesona alam yang memukau. Namun, sayangnya, meskipun banyak investor telah diundang, dilobi, dan diyakinkan untuk berinvestasi di Aceh, hingga kini belum ada yang benar-benar serius. Lebih parah lagi, beberapa investor yang berminat justru terpaksa membatalkan niat mereka untuk berinvestasi.
“Inilah fenomena yang terjadi selama 19 tahun Aceh dalam damai, di mana masih banyak ragam masalah yang belum terselesaikan, termasuk masalah korban konflik dan berbagai masalah lainnya. Dengan beragam masalah yang ada, tentu ini menjadi perhatian serius bagi para elit politik dan calon kandidat Gubernur Aceh serta Bupati/Walikota. Mereka harus mampu menyelesaikan berbagai masalah yang ada dengan kepemimpinan yang kuat, cerdas, dan tegas,”harap Usman.




