ACEH TIMUR | MA — Hingga 1,5 bulan pascabanjir dan longsor yang melanda Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur, kondisi warga terdampak masih memprihatinkan. Ketiadaan hunian sementara (huntara) yang layak memaksa banyak korban bencana bertahan dalam kondisi darurat, bahkan tidak sedikit yang harus menyewa rumah dengan biaya sendiri demi keselamatan keluarga.
Seorang korban banjir dan longsor, Anwar, warga Pante Bidari, kepada wartawan pada Ahad, 11 Januari 2026, mengaku hingga kini belum ada tempat hunian sementara yang layak disediakan pemerintah. Dalam kondisi terdesak, ia bersama keluarga terpaksa membangun gubuk sederhana secara swadaya untuk dijadikan tempat tinggal sementara.
“Kalau menunggu aksi pemerintah, sangat lambat. Kami tidak mungkin terus menunggu tanpa kepastian, sementara anak-anak butuh tempat berlindung,” kata Anwar.
Menurutnya, tenda bantuan yang ada di lokasi pengungsian tidak bisa disebut sebagai hunian darurat yang manusiawi. Tenda-tenda tersebut hanya diletakkan secara asal, tanpa perencanaan yang memadai. Tidak tersedia sanitasi, sumber air bersih, maupun fasilitas dasar seperti toilet. Kondisi tersebut membuat warga kesulitan menjalani kehidupan sehari-hari dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.





