Menurutnya, melalui PENAS, para peserta dapat menjalin kemitraan, bertukar pengalaman dengan sesama pelaku pertanian dan perikanan dari seluruh Indonesia, serta membawa pulang ilmu dan teknologi baru yang nantinya dapat diterapkan di Aceh.
“Ilmu dan pengalaman yang kami peroleh di Gorontalo akan menjadi bekal berharga untuk memajukan sektor agraris dan maritim di Aceh, sekaligus mendukung target kemandirian pangan di daerah,” katanya.
Ia meyakini, kekuatan pangan Indonesia sesungguhnya bertumpu pada semangat belajar dan kemampuan para petani dan nelayan dalam beradaptasi terhadap perubahan zaman. Karena itu, setiap peserta yang mengikuti PENAS memikul amanah besar untuk menjadi agen perubahan di daerahnya masing-masing.
“Jika petani dan nelayan terus berinovasi, memperkuat kemitraan, dan memanfaatkan teknologi, maka cita-cita mewujudkan kedaulatan pangan bukanlah sesuatu yang mustahil. Dari tangan petani dan nelayan, masa depan pangan bangsa ditentukan,” tegas Yahnda.
Ia menambahkan, keikutsertaan delegasi Aceh dalam PENAS XVII Gorontalo tidak hanya bertujuan mengikuti rangkaian kegiatan nasional, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar untuk mencari inspirasi dan gagasan baru yang dapat diterapkan guna mempercepat kemajuan sektor pertanian dan perikanan di Aceh.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya








Komentar