Amirudin menambahkan urgensi percepatan program perumahan. “Dinas jangan pasif. Jangan tunggu proposal masuk, tapi jemput bola! Itu cara kerja responsif,” katanya.
Tim ini juga memberikan tekanan khusus pada persoalan sampah, terutama kondisi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Mulie Jadi yang kian mengkhawatirkan.
“Masalah ini bukan sekadar bau menyengat, tapi soal harga diri daerah kita dalam menjaga lingkungan. Kirimkan dokumen lengkap, kami akan bawa ini ke paripurna dengan rekomendasi yang tegas dan solutif,” tandas anggota tim Pansus yang hadir.
Tak hanya soal program fisik, Pansus juga menyoroti efektivitas penyusunan Detail Engineering Design (DED) yang selama ini diklaim menjadi dasar pembangunan. Ichwan Mulyadi dan Fahrijal Kasir menyampaikan kegelisahan mereka soal output DED.
“DED jangan jadi formalitas. Harus menjawab persoalan, bukan cuma habiskan anggaran. Tepat sasaran itu harga mati,” katanya.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Kepala Dinas Perkim, Mauiza Uswa, menyambut baik semangat kritis yang ditunjukkan Pansus DPRK. “Kami siap membuka semua dokumen yang dibutuhkan. Ini adalah momen untuk memperkuat sinergi dan memperbaiki kualitas layanan Perkim,” ujar Mauiza, menutup dialog yang berlangsung terbuka dan produktif. (AR)




