“Gotong royong dan kebersamaan adalah ciri khas bangsa kita. Dengan sinergi, kita bisa menuju Indonesia Emas 2045.”
[Mayjen TNI Joko Hadi Susilo, Pangdam Iskandar Muda].
DI HALAMAN Pendopo Bupati Aceh Utara, aroma kopi pagi berpadu dengan sapaan akrab antar pejabat dan tokoh masyarakat. Jumat, 7 November 2025 itu, suasana lebih hangat dari biasanya. Bukan sekadar seremoni; tapi sebuah temu hati.
Pangdam Iskandar Muda, Mayjen TNI Joko Hadi Susilo, datang berkunjung dalam Coffee Morning bersama unsur Forkopimda Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe.
Duduk melingkar, suasana cair. Tak ada jarak antara seragam loreng dan batik, antara pemimpin daerah dan petani kopi lokal yang ikut menyuguhkan racikan khas Samudra Pasai.
Di samping Pangdam, tampak Ny. Tri Joko Hadi Susilo, Ketua Persit KCK Daerah Iskandar Muda, menyapa hangat tamu undangan.
Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil dan Wali Kota Lhokseumawe Dr. Sayuti Abubakar menyambut dengan senyum lebar. “Selamat datang di Bumi Samudra Pasai,” ujar Sayuti, membuka suasana dengan narasi sejarah yang menyejukkan.
“Dulu, Pak Pangdam,” kata Sayuti, “sebelum Aceh Utara dimekarkan menjadi tiga wilayah, ibu kotanya adalah Lhokseumawe. Ibarat ayah dan anak, Aceh Utara punya dua anak: Bireuen dan Lhokseumawe.”
Ucapan itu disambut tepuk tangan, mengundang tawa kecil di tengah suasana penuh keakraban.
Dari Sejarah ke Sinergi.
UCAPAN Sayuti bukan sekadar nostalgia. Ia menegaskan, hubungan historis itu kini menjelma menjadi semangat sinergi antara dua wilayah. “Kami berterima kasih kepada Danrem 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Ali Imran, yang telah memperkuat kolaborasi antara Aceh Utara dan Lhokseumawe bersama TNI-Polri. Keamanan dan kekompakan kita sangat terasa,” ujarnya.
Ali Imran, putra daerah, dikenal aktif mendorong berbagai inisiatif sosial. Ia membuka akses jalan, memugar Makam Pahlawan Nasional Cut Meutia, hingga menggagas program pompanisasi air bersih di kawasan Masjid Agung Islamic Center Lhokseumawe.
Sebelum ada pompa bor itu, air di masjid terasa payau. Kini, jernih dan segar, bahkan bisa diminum langsung. “Jamaah kini merasa lebih nyaman beribadah,” ucap Sayuti dengan nada bangga.
Pangdam; Dari Silaturahmi ke Program Nyata.
DI HADAPAN hadirin, Mayjen TNI Joko Hadi Susilo tampak tenang dan ramah. Dengan suara rendah tapi tegas, ia menyampaikan pesan kebersamaan.
“Alhamdulillah, pada Jumat berkah ini kita bisa bersilaturahmi. Semoga membawa keberkahan bagi kita semua,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa kunjungannya juga bertepatan dengan sejumlah agenda Kodam, termasuk penutupan TMMD dan peninjauan satuan di wilayah Korem 011. Namun baginya, pertemuan ini lebih dari sekadar formalitas.
“Suasana seperti ini yang ingin kita pelihara. Gotong royong dan kebersamaan adalah ciri khas bangsa kita,” ujarnya, disambut anggukan tamu undangan.
Pangdam juga menyinggung program besar pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto, yaitu Koperasi Merah Putih, yang bertujuan meningkatkan perekonomian rakyat.
“Kami berharap, Bupati dan Wali Kota turut mendukung agar koperasi ini bisa menjadi wadah masyarakat menuju kesejahteraan,” katanya.
Selain itu, ia memaparkan program TNI Manunggal Air; inisiatif penyediaan air bersih untuk masyarakat dan pertanian di wilayah pedesaan. “Air adalah sumber kehidupan. Kita ingin setiap warga di Aceh memiliki akses air bersih dan mampu membangun ketahanan pangan sendiri,” tambahnya.
Pangdam menutup sambutan dengan kalimat reflektif, “Dengan kerja sama dan sinergi semua pihak, kita bisa menuju Indonesia Emas 2045 yang mandiri dan sejahtera.”
Kopi, Sinergi, dan Harapan.
SETELAH acara Coffee Morning berakhir, Pangdam dan rombongan melanjutkan kunjungan ke Korem 011/Lilawangsa, disambut hangat oleh Danrem dan jajaran. Suasana kekeluargaan tetap terasa.
Di sela obrolan ringan dan tawa yang hangat, terselip makna bahwa keamanan dan kemajuan Aceh tak lahir dari senjata semata [melainkan dari rasa saling percaya].
Kopi pagi itu bukan sekadar jamuan, tapi simbol perekat harmoni antara TNI dan rakyat. Dari pendopo tua di Lhokseumawe, semangat kebersamaan itu menyeruak; mengingatkan bahwa dari tanah Samudra Pasai inilah, peradaban Islam di Nusantara dulu tumbuh dengan semangat yang sama: silaturahmi dan gotong royong. [].






