“Pada waktu diminta disediakan merek B, dibelikan merek A yang berkualitas rendah karena muncul dugaan oknum pengelola barang lebih mementingkan fee yang besar yang diberikan oleh distributor yang bisa di ajak kerja sama,” kata Muhammad Arsa Farras.
Menurutnya, informasi yang berkembang oknum orang dekat direktur sering meminta fee yang besar sebelum barang dipesan.
“Ini memang benar seperti yang beritakan sebelumnya oleh salah satu media yang bekerja adalah kroni-kroni pejabat tertentu,” katanya.
Dinilai juga, pejabat di RSUDZA tersebut sangat arogan, sehingga jika ada masalah dengan direktur langsung dipindahkan ke bagian lain seperti ke ruang loundry.
Begitu pula, dalam hal perjalanan dinas, hanya diperuntukkan untuk oknum tertentu.
Menurut sinyalemen, Muhammad Farras, menduga pihak RSUDZA juga hanya membiarkan peran oknum berinisial M selaku Bina Program (RSUDZA) ikut menentukan pembelian BHP yang di bawah standar.
“Seharusnya pihak yang menjadi pihak pengadaan alat kesehatan untuk rumah sakit tipe-A disesuaikan dengan spesifikasi atas usulan kebutuhan unit kerja,” kata Muhammad Arsa Farras.
Masalah gaji bagi ASN yang naik pangkat di RSUDZA, disinyalir juga tidak langsung dibayarkan pada bulan berikutnya, tetapi masih memberlakukan pembayaran gaji pada golongan lama.




