Sabang (ADC) Akibat kebakaran hutan yang tarjadi di sejumlah daerah, kini masyarakat palau paling ujung barat Indonesia dimabuk asap. Bahkan, pada pagi Selasa 24 September 2019, kondisi udara di Kota Sabang, mula gelap tertutup asap serta jarak pandang terbatas. Dikabarkan sudah 2 hari ada nelayan yang belum pulang.
Wakil Ketua Pembela Tanah Air 1 Komando (PETA 1 Komamdo) Kota Sabang Edi Putra kepada media ini mengatakan, asap yang menyelimuti pulau Sabang pada hari Selasa pagi sudah sangat memprihatinkan.

Dimana masyarakat pulau ini mulai takut akan timbul penyakit khususnya penyakit pernafasan, maka para ibu rumah tangga khawatir mengeluarkan anak-anak terutama anak balita keluar dari rumah.
Diharapkan, kepada pemerintah untuk memikirkan kiranya solusi apa yang harus ditempuh supaya asap yang menutupi pulau Weh Sabang bisa teratasi. Apalagi Sabang, merupakan kawasan tujuan wisata dunia dan akan berdampak pada menurunnya kedatangan turis baik lokal maupun Internasional.
“Harapan kita pemerintah harus ada solusi untuk menangani asap yang kian parah menyelimuti pulau Sabang, karena sudah pada level mengkhawatirkan dan menganggu aktifitas masyarakat,” kata Edi Saputra, yang lebih dikenal Baciyek ini.
Sementara itu, tokoh masyarakat Gampong Kuta Barat, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang, M Amin menjelaskan, kabut asap yang menutupi kawasan pulau Sabang, juga berdampak pada aktifitas nelayan.
Masyarakat nelayan takut melaut karena jarak pandang yang sangat terbatas, bahkan menurut kabar 1 orang warga Gampong Keuneukai, Kecamatan Sukajaya, Kota Sabang, belum diketahui nasibnya mereka diduga tidak tau arah pulang akibat asap.
“Dampak dari kabut asap dikabarkan 1 warga pulau Sabang, sampai pagi ini belum diketahui nasibnya dia itu mencari nafkah ke sekitar pulau Tempurung, diduga tidak tau arah pulang akibat asap. kita hanya bisa berdoa semoga cepat berkahir” ujarnya.(Jalal).




