MEUREUDU | MA – Setelah hampir satu bulan lumpuh total akibat terjangan banjir bandang pada akhir November 2025, geliat aktivitas di Pelabuhan Perikanan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Meski masih beroperasi dengan kapasitas terbatas, para nelayan dan pekerja pelabuhan mulai kembali melaut.
Dampak Serius pada Ratusan Pekerja dari Musibah alam tersebut memberikan dampak ekonomi yang cukup telak bagi sektor perikanan lokal. Tidak kurang dari 300 pekerja di Pelabuhan Perikanan Meureudu kehilangan mata pencaharian selama berminggu-minggu karena pelabuhan tertimbun lumpur pekat.
Akses jalan menuju pelabuhan yang terletak di Meunasah Balek sempat terputus total. Hingga saat ini, meski sudah mulai dibersihkan dan dapat dilalui kendaraan, sisa-sisa lumpur masih terlihat di beberapa titik jalan, menghambat kelancaran distribusi hasil laut.
Kendala Pendangkalan Muara
Kondisi di lapangan menunjukkan tantangan besar bagi kapal-kapal besar.
Zainal, salah seorang pekerja pelabuhan, mengungkapkan bahwa pendangkalan sungai dan muara pasca-banjir menjadi kendala utama saat ini.
”Kondisi sungai dan muara sudah sangat dangkal. Akibatnya, kapal berbobot 35 GT ke atas sama sekali tidak bisa masuk ke dermaga. Saat ini hanya boat kecil yang bisa merapat, itu pun dengan kondisi yang sangat terbatas,” ujar Zainal kepada Mediaaceh.co.id, Selasa 13 Januari 2026.





