Perkebunan-perkebunan kopi kemudian dibuka secara bertahap di sejumlah wilayah seperti Belang Gele, Paya Tumpi, Blang Gele, Bergendal, Burni Bius, hingga Bandar Lampahan. Pada awalnya, pengelolaan dilakukan langsung oleh pemerintah kolonial dengan melibatkan tenaga kerja lokal.
Dari Perkebunan Kolonial ke Kebun Rakyat
Pada masa awal pengembangannya, masyarakat Gayo belum menjadi pemilik utama kebun kopi. Pengetahuan mengenai budidaya kopi diperoleh secara bertahap dari aktivitas di perkebunan Belanda.
Setelah Indonesia merdeka, terutama sejak dekade 1950-an, masyarakat mulai membuka kebun kopi secara mandiri. Hutan-hutan di lereng pegunungan dibuka menjadi lahan pertanian, dan kopi perlahan berubah menjadi sumber penghidupan utama masyarakat.
Perubahan tersebut menjadikan kopi bukan lagi sekadar tanaman ekspor kolonial, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Gayo. Hampir setiap keluarga memiliki kebun kopi, baik dalam skala kecil maupun menengah.
Alam Gayo yang Melahirkan Cita Rasa Istimewa
Keunggulan Kopi Gayo tidak hanya berasal dari jenis tanaman arabikanya, tetapi juga dari kondisi alam Dataran Tinggi Gayo.
Ketinggian wilayah, suhu yang sejuk, curah hujan yang stabil, tanah vulkanik yang subur, serta pola budidaya di bawah naungan pepohonan menciptakan karakter rasa yang khas. Kopi Gayo dikenal memiliki tingkat keasaman yang rendah, aroma harum, body yang kuat, serta sentuhan rasa cokelat, rempah, hingga buah-buahan yang membuatnya digemari oleh para penikmat kopi spesialti di berbagai negara.




