Sejarah Kopi Gayo: Dari Masa Kolonial hingga Mendunia

Kamis, 9 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Perkebunan-perkebunan kopi kemudian dibuka secara bertahap di sejumlah wilayah seperti Belang Gele, Paya Tumpi, Blang Gele, Bergendal, Burni Bius, hingga Bandar Lampahan. Pada awalnya, pengelolaan dilakukan langsung oleh pemerintah kolonial dengan melibatkan tenaga kerja lokal.

Dari Perkebunan Kolonial ke Kebun Rakyat

Pada masa awal pengembangannya, masyarakat Gayo belum menjadi pemilik utama kebun kopi. Pengetahuan mengenai budidaya kopi diperoleh secara bertahap dari aktivitas di perkebunan Belanda.

BACA JUGA...  Jejak Kesultanan Peureulak: Menelusuri Salah Satu Pusat Awal Perkembangan Islam di Nusantara

Setelah Indonesia merdeka, terutama sejak dekade 1950-an, masyarakat mulai membuka kebun kopi secara mandiri. Hutan-hutan di lereng pegunungan dibuka menjadi lahan pertanian, dan kopi perlahan berubah menjadi sumber penghidupan utama masyarakat.

Perubahan tersebut menjadikan kopi bukan lagi sekadar tanaman ekspor kolonial, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Gayo. Hampir setiap keluarga memiliki kebun kopi, baik dalam skala kecil maupun menengah.

BACA JUGA...  Jejak Daratan Tinggi yang Membentuk Aceh: Hubungan Kerajaan Gayo dengan Kesultanan Aceh

Alam Gayo yang Melahirkan Cita Rasa Istimewa

Keunggulan Kopi Gayo tidak hanya berasal dari jenis tanaman arabikanya, tetapi juga dari kondisi alam Dataran Tinggi Gayo.

Ketinggian wilayah, suhu yang sejuk, curah hujan yang stabil, tanah vulkanik yang subur, serta pola budidaya di bawah naungan pepohonan menciptakan karakter rasa yang khas. Kopi Gayo dikenal memiliki tingkat keasaman yang rendah, aroma harum, body yang kuat, serta sentuhan rasa cokelat, rempah, hingga buah-buahan yang membuatnya digemari oleh para penikmat kopi spesialti di berbagai negara.

BACA JUGA...  Aceh dan Jalur Rempah: Gerbang di Ujung Barat yang Menghubungkan Peradaban Dunia

Berita Terkait

Sejarah Hikayat Prang Sabi: Karya Sastra yang Mengobarkan Semangat Perlawanan Rakyat Aceh
Masjid Raya Baiturrahman: Saksi Bisu Perang Aceh, Tsunami, dan Kebangkitan Serambi Mekkah
Sejarah Kerajaan Trumon Aceh Selatan: Kehulubalangan yang Berpengaruh di Pesisir Barat Selatan Aceh
Sejarah Kerajaan Jeumpa: Antara Tradisi, Hikayat, dan Bukti Sejarah
Aceh dan Jalur Rempah: Gerbang di Ujung Barat yang Menghubungkan Peradaban Dunia
Sejarah Kerajaan Pedir: Kerajaan Maritim yang Menguasai Perdagangan di Pesisir Utara Aceh
Pelabuhan Peureulak dan Jalur Sutra Maritim: Saat Aceh Timur Menjadi Pusat Perdagangan Dunia
Jejak Kesultanan Peureulak: Menelusuri Salah Satu Pusat Awal Perkembangan Islam di Nusantara

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 23:39 WIB

Sejarah Hikayat Prang Sabi: Karya Sastra yang Mengobarkan Semangat Perlawanan Rakyat Aceh

Sabtu, 18 Juli 2026 - 14:14 WIB

Masjid Raya Baiturrahman: Saksi Bisu Perang Aceh, Tsunami, dan Kebangkitan Serambi Mekkah

Jumat, 17 Juli 2026 - 15:03 WIB

Sejarah Kerajaan Trumon Aceh Selatan: Kehulubalangan yang Berpengaruh di Pesisir Barat Selatan Aceh

Jumat, 17 Juli 2026 - 00:28 WIB

Sejarah Kerajaan Jeumpa: Antara Tradisi, Hikayat, dan Bukti Sejarah

Kamis, 16 Juli 2026 - 23:43 WIB

Aceh dan Jalur Rempah: Gerbang di Ujung Barat yang Menghubungkan Peradaban Dunia

Berita Terbaru

Bupati Tagore Sedang Menanam Bibit kopi bersama Wakilnya Armia pada saat penyaluran perdana 10,2 juta  bibit kopi di Kampung Bumi Ayu  kecamatan Timang Gajah Bener Meriah

PEMERINTAHAN

Bupati Tagore Salurkan 10,2 Juta Bibit Kopi

Selasa, 20 Okt 2026 - 09:25 WIB

NANGGROE

Proyek Pujasera Sabang Senilai Rp 1,3 Miliar Jadi Sorotan

Minggu, 18 Okt 2026 - 20:44 WIB