Catatan apoteker sekaligus penjelajah Portugis Tomé Pires dalam Suma Oriental (1512–1515) menggambarkan Pedir sebagai salah satu kerajaan terkaya di pantai utara Sumatra. Ia menyebut bahwa kerajaan tersebut memiliki hubungan dagang yang luas dan telah memeluk Islam.
Kerajaan Islam
Pada awal abad ke-16, Kerajaan Pedir telah menjadi kerajaan Islam. Para ulama memiliki peran penting dalam pemerintahan, sementara hubungan dagang dengan dunia Islam semakin memperkuat perkembangan agama di wilayah tersebut.
Meskipun demikian, Pedir bukanlah kerajaan Islam pertama yang dapat dipastikan secara sejarah. Pada masa yang sama, Samudra Pasai telah lebih dahulu dikenal sebagai pusat penyebaran Islam dengan bukti sejarah yang lebih lengkap.
Hubungan dengan Portugis
Setelah Portugis merebut Malaka pada tahun 1511, mereka berusaha menjalin hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan di pesisir Sumatra, termasuk Pedir.
Awalnya hubungan berlangsung cukup baik, tetapi seiring meningkatnya ambisi Portugis menguasai perdagangan, hubungan tersebut memburuk. Persaingan politik dan ekonomi di kawasan turut memperlemah posisi Kerajaan Pedir.
Bergabung dengan Kesultanan Aceh
Pada awal abad ke-16, Sultan Ali Mughayat Syah, pendiri Kesultanan Aceh Darussalam, melakukan ekspansi ke berbagai kerajaan di pesisir utara Aceh.




