Saat Bumi Diajak Bernafas Kembali

Saat Bumi Diajak Bernafas Kembali. [Foto Dok | mediaaceh.co.id | ilustrasi digital art Awelatam].

“Pertanian berkelanjutan bukan sekadar teknik bertani, melainkan cara kita berterima kasih kepada bumi. Karena dari tanah yang sehat, lahir kehidupan yang lebih baik.”

[Irjen. Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH. Bupati Aceh Tamiang].

RANTAU, SORE ITU; langit Aceh Tamiang masih berwarna tembaga, saat Bupati Irjen. Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH, menapaki pelataran Gudang Kebun Benih Hortikultura Distanbunnak.

BACA JUGA...  Dari Posyandu ke Panggung Penghargaan; Kerja Sunyi Aceh Tamiang Lawan Stunting

Di hadapannya, deretan karung pupuk bertanda jelas [NPK, hayati, organik cair, magnesium] tersusun rapi. Di balik tumpukan itu, ada lebih dari sekadar bantuan; ada pesan perubahan, ada harapan baru bagi bumi dan petani Tamiang.

“Kita sudah harus beralih menuju pertanian yang lebih aman, lebih sehat, dan lestari,” ujar Bupati Armia dalam nada tegas namun penuh kehangatan, menatap para petani yang hadir dengan mata berbinar.

Kata-katanya bukan sekadar seremoni, melainkan seruan moral: untuk menjaga tanah, air, dan kehidupan generasi mendatang.

  • Mengubah Pola, Menyuburkan Kesadaran
BACA JUGA...  Air Terjun Sangka Pane: Permata Alam Aceh Tamiang yang Menjadi Magnet Wisata Baru

Aceh Tamiang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di kawasan Timur Aceh. Namun, di balik hasil panen yang menggembirakan, ada cerita lain yang sering terabaikan; tentang tanah yang mulai kehilangan napasnya karena terus-menerus disiram pupuk kimia, tentang ekosistem mikro yang perlahan menipis.