Lebih-lebih lagi saat Walidi melantunkan untaian syair “Ingat Mate” yang berisi peringatan bagi setiap orang untuk terus merenungi makna hidup. “Hidup yang bermakna adalah hidup yang selalu mengingat mati, sekurang-kurangnya dalam satu hari kita harus mengingat mati sebanyak 20 kali,” kata Walidi.
Bupati Aceh Utara H Ismail A Jalil, SE, MM, menyampaikan sambutannya setelah pelaksanaan zikir. Ayah Wa, sapaan akrab Bupati, menyampaikan bahwa tanggal 15 Agustus selalu menjadi pengingat terhadap sebuah perjalanan panjang dari konflik menuju kedamaian di Aceh.
“Kita pernah melalui masa yang begitu sulit. Jalan-jalan lengang menjelang senja, bukan karena hujan atau badai, tetapi karena rasa takut yang mencekam. Anak-anak yang tidak bebas bermain, para ibu menyimpan cemas, dan para ayah tak selalu pulang dengan dengan perasaan aman,” ungkap Ayah Wa.
Di tengah kekayaan alam yang Allah titipkan, lanjutnya, kemiskinan justru merajalela. Pasar-pasar tutup, sekolah-sekolah terhenti, dan banyak keluarga kehilangan orang-orang tercinta. “Inilah luka yang tak mudah hilang dari ingatan kita,” kata Ayah Wa.
Namun, dengan izin Allah, melalui kesabaran, doa, dan perjuangan semua pihak, lahirlah MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005. Sebuah tanda tangan yang mengakhiri puluhan tahun konflik, sekaligus menjadi ‘janji suci’ antara Aceh dan Pemerintah RI untuk membangun masa depan yang damai dan sejahtera.




