Sebelumnya, banjir besar dengan ketinggian air mencapai 4 hingga 4,5 meter serta endapan lumpur setebal 30 hingga 80 sentimeter berdampak signifikan terhadap fasilitas produksi, perkantoran, hingga permukiman pekerja. Akibatnya, produksi minyak turun drastis dari kisaran 1.800–1.900 barel per hari (BOPD) menjadi sekitar 600 BOPD.
Dalam penanganannya, Pertamina EP Rantau Field dan Pangkalan Susu Field menerapkan tiga fase pemulihan, yakni fase emergency & reactivation, fase recovery, dan fase sustainability.
Tahapan ini mencakup penanganan keselamatan, perbaikan fasilitas, hingga penguatan sistem operasional jangka panjang.
Hingga Maret–April 2026, capaian pemulihan menunjukkan hasil signifikan. Fasilitas produksi telah pulih sekitar 65 persen, sementara sumur produksi dan injeksi mencapai 84 persen.
Produksi minyak pun meningkat hingga sekitar 1.591 BOPD, mendekati kondisi normal sebelum bencana.
Atas capaian tersebut, SKK Migas juga memberikan apresiasi kepada sejumlah pimpinan, yakni Hari Widodo selaku General Manager Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1 periode 2023–2026, Tommy Wahyu Alimsyah sebagai Field Manager PEP Rantau, serta Edwin Susanto sebagai Field Manager PEP Pangkalan Susu.





