Pengembangan Perkebunan Indonesia Akan Terus Berkelanjutan

Banda Aceh |AP-Dalam rangka Penas XV yang berlangsung dari tanggal 6 s/d 11 2017 yang dipusatkan di stadion Harapan Bangsa Banda Aceh,  panitia menggelar konperensi pers yang dilaksanakan di Media Center, 7 Mei 2017.

Dirjen PSP (prasarana dan Sarana pertanian) Pending Dadi Permana sebagai nara sumber menjelaskan kepada awak media bahwa dewasa ini Indonesia dengan UU No.39/2014 tentang perkebunan pasal 62 menyebutkan bahwa pengembangan perkebunan yang berkelanjutan dengan memperhatikan aspek ekonomi, sosial budaya,ekologi, dan sebagainya.

Selain itu prinsip prinsip dan kriteria pembangunan perkebunan berkelanjutan juga bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk produk unggulan sektor perkebunan baik untuk konsumsi pasar dalam negeri maupun pasar dunia.

BACA JUGA...  Semua Pihak Diminta Ikut Sukseskan Penas XV 2017 Aceh

Juga dipaparkan pula bahwa saat ini bahwa pengembangan kelapa sawit telah mempunyai pedoman sistim pengembangan kelapa sawit kelapa sawit sesuai Permentan No 11 Permentan/OT 140/3/2015 tentang sistim Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Indonesia Sustainable Palm Oil Certification System/ISPO)

Pada akhir bulan April 2017, sudah 266 sertifikat ISPO diterbitkan, antara lain 264 ISPO untuk perusahaan, 1 KUD, dan 1 Asosiasi Petani Sawit Plasma, dengan total luas areal kebun sawit 1,7 juta ha (15% dari luas total), dengan produksi CPO 7,2 juta ton atau 23% dari total produksii.

“Saat ini perkembangan sedang mengembangkan 150 desa pertanian organik berbasis komoditas perkebunan kopi, kakao, pala, teh, mete, kelapa, dan aren di 23 provinsi.
Kegiatannya mencakup sosialisasi, pengadaan sarana dan prasarana produksi, penyiapan dokumen, persiapan sertifikasi organik, dan apresiasi produk organik melalui kegiatan desa organik, petani mendapat bantuan ternak, dengan demikian pengembangan komoditas perkebunan mendukung pembangunan perkebunan zero waste, dan dari 150 desa organik yang menjadi pilot project tersebut dapat terus berkembang di sentra sentra perkebunan lainnya.” jelas Pending Dadi Permana.

BACA JUGA...  Akibat Tidak Disiram, Masyarakat Makan Debu di Proyek Balohan Sabang

“Selain itu kepada konsumen maupun masyarakat di dalam negeri perlu di berikan pemahaman untuk.menghargai produk organik perkebunan yang berbasis kepada kearifan lokal selain juga memperkenalkan ke pasar internasional, mengingat komoditas komoditas perkebunan diatas makin meningkat permintaannya (demand) di pasar global.” papar Pending pula.

Konferensi pers yang diadakan disela sela acara Penas Ke XV selain dihadiri oleh awak media cetak, elekronik, dan online,turut dihadiri juga oleh Dirjen Pembenihan dan Holtikultura Sukarman. (AS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *