PRAJA TURUN TANGAN DI BUMI MUDA SEDIA

[Foto Ilustrasi Digital Art/mediaaceh.co.id/Awelatam].

SELAMA sebulan berada di Aceh Tamiang, para praja tidak hanya membersihkan lumpur dan menata ulang fasilitas umum.

Mereka berinteraksi langsung dengan warga, menyerap aspirasi, dan merasakan denyut kehidupan masyarakat yang sedang bangkit dari musibah.

Pengalaman tersebut menjadi laboratorium nyata bagi calon aparatur negara. Mereka belajar bahwa birokrasi bukan sekadar administrasi dan regulasi, melainkan juga keberanian turun ke lapangan, mendengar, dan hadir di tengah rakyat.

BACA JUGA...  Komisi V DPR RI Desak Menteri PU Berdayakan Pengusaha Lokal dalam Tanggap Darurat dan Rehab Rekon Bencana di Aceh

Secara bergelombang, para praja dijadwalkan kembali ke kampus IPDN setelah menyelesaikan masa pengabdian satu bulan di Aceh Tamiang. Namun jejak kerja mereka akan tetap menjadi bagian dari proses pemulihan daerah.

JALINAN EMOSIONAL

BUKA PUASA itu berakhir dengan doa dan harapan. Di antara lantunan azan dan hidangan sederhana, terjalin ikatan emosional antara pemerintah daerah dan para calon pemimpin masa depan.

BACA JUGA...  Forpincam Kejuruan Muda Targetkan 1.000 orang Tervaksin

Aceh Tamiang mungkin masih berbenah. Namun dari lumpur yang dibersihkan bersama, tumbuh optimisme baru [bahwa negara hadir bukan hanya lewat kebijakan, tetapi melalui tangan-tangan muda yang siap bekerja, belajar, dan mengabdi]. [].