“Hari Anak bukan sekadar seremoni, tetapi momentum untuk membentuk narasi masa depan yang ramah anak, berakar budaya, dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan,” ujar Faisal.
Sementara itu, Ketua Srikandi PGX, Sisca Syafdony, menambahkan bahwa pihaknya tengah mengembangkan program yang akan melibatkan anak-anak dari berbagai latar belakang sosial dan geografis.
Program ini diarahkan untuk menggali potensi anak dalam bidang seni, budaya, dan edukasi berbasis komunitas.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya menjadi objek acara, tetapi menjadi subjek aktif yang membawa gagasan dan karya mereka ke ruang publik,” terang Sisca.
Direktur Bina SDM lembaga pranata kebudayaan RI, Irini Dewi Wanti, menyambut baik gagasan tersebut dan menyatakan bahwa Kementerian Kebudayaan RI siap mendukung inisiatif-inisiatif masyarakat yang selaras dengan visi kebudayaan nasional.
“Kita perlu memastikan bahwa Hari Anak Indonesia menjadi ruang tumbuh yang sehat bagi ekspresi budaya anak-anak kita. Kolaborasi seperti ini adalah bentuk gotong royong yang sejati dalam membangun bangsa,” ujar Irini.
Pertemuan yang berlangsung selama lebih dari satu jam itu ditutup dengan komitmen bersama untuk merancang rangkaian kegiatan yang inklusif, inspiratif, dan transformatif menjelang peringatan Hari Anak Indonesia 2025.





