Ia juga tak lupa memberi peringatan keras kepada para penerima bantuan. Alsintan ini, tegasnya, adalah aset negara. Dipindah tangankan ke pihak lain? Itu pelanggaran hukum. “Gunakan di sawahmu, bukan untuk disewakan ke luar. Jangan jadi bagian dari masalah. Jadilah bagian dari solusi,” tegasnya dalam rilis yang sama.
Langkah Tani Merdeka Aceh Besar ini mendapat dukungan penuh dari Ketua DPW Tani Merdeka Provinsi Aceh, Cut Muhammad. Menurutnya, apa yang dilakukan Pak Ben layak dijadikan contoh bagi daerah lain. Di tengah situasi pertanian yang makin kompleks, mereka hadir tidak dengan keluhan, tetapi dengan kerja nyata. Mereka menunjukkan bahwa organisasi tani bukan hanya ada di spanduk pertemuan, tapi berdiri kokoh di tengah sawah, di samping petani.
Bagi para petani di Aceh Besar, hari itu adalah momentum penting. Bukan hanya karena mereka membawa pulang alat pertanian modern, tapi karena mereka tahu: mereka tidak sendiri. Ada yang memperjuangkan mereka. Ada yang datang bukan untuk menuntut, tapi untuk mengantar langsung alat bantu kehidupan. Dari Samahani, semangat itu berangkat. Menyebar ke sawah-sawah Aceh Besar. Menumbuhkan bukan hanya padi, tapi keyakinan bahwa kemerdekaan petani bukan utopia, tapi sesuatu yang bisa dicapai, selama ada yang mau berjuang sungguh-sungguh. (R)




